Ukasyah bin Mihsan
Ukkasyah bin Mihshan al-Asadi (bahasa Arab: عكاشة بن محصن الأسدي, juga ditulis dengan Ukasyah,
wafat di Buzakhah, Najd, 12 H (633, usia 45)) adalah seorang sahabat Nabi Muhammad.[2] Ukkasyah adalah satu sahabat yang khusus didoakan Nabi dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ
صلى الله عليه وسلم يَقُولُ " يَدْخُلُ مِنْ أُمَّتِي زُمْرَةٌ هُمْ
سَبْعُونَ أَلْفًا، تُضِيءُ وُجُوهُهُمْ إِضَاءَةَ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ
". وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ فَقَامَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ الأَسَدِيُّ
يَرْفَعُ نَمِرَةً عَلَيْهِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ اللَّهَ أَنْ
يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ. قَالَ " اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ مِنْهُمْ ". ثُمَّ
قَامَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ اللَّهَ أَنْ
يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ. فَقَالَ " سَبَقَكَ عُكَّاشَةُ ".
Aku mendengar Rasululah ﷺ bersabda, “Tujuh puluh
ribu orang dari umatku akan masuk surga (tanpa hisab). Wajah mereka bersinar seperti bulan purnama.” Ukkasyah
bin Mihshan al-Asadi kemudian berdiri, membuka kain penutup kepalanya, dan
berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar menjadikanku di antara
mereka.” Rasulullah berdoa, “Ya Allah, jadikanlah dia di antara mereka!” Kemudian
seorang laki-laki dari kaum
Ansar berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada
Allah agar menjadikanku di antara mereka.” Maka Rasulullah menjawab, “Ukkasyah
sudah mendahuluimu.”
اِذَا جَآءَ نَصۡرُ اللّٰهِ وَالۡفَتۡحُۙ ١
وَرَاَيۡتَ النَّاسَ يَدۡخُلُوۡنَ فِىۡ دِيۡنِ اللّٰهِ اَفۡوَاجًا
ۙ ٢
فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَاسۡتَغۡفِرۡهُ
ؕ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا ٣
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah.maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat.
Tentang Surah An-Nashr ini, Jabir bin Abdillah dan
Abdullah bin Abbas meriwayatkan bahwa setelah surat ini turun, Rasulullah SAW
berkata, “Wahai Jibril. Jiwaku sudah terasa lelah.”
Jibril AS mengatakan, “Akhirat itu lebih baik
bagimu daripada dunia. Dan, pasti Tuhanmu akan memberikan (sesuatu) kepadamu
dan kamu merasa ridha.”
Wahai Sahabat. Nabi seperti apa aku ini bagi kalian?
Para sahabat menjawab, “Semoga Allah memberikan
balasan kebaikan sebab kenabianmu. Engkau bagi kami bagaikan ayah yang
penyayang, saudara yang bijak dan baik hati. Engkau telah menyampaikan risalah
Allah dan engkau telah mengajak ke jalan Tuhanmu dengan cara yang bijak dan
dengan tutur kata yang santun. Semoga Allah memberikan balasan kebaikan yang
lebih besar dari balasan yang diterima oleh nabi lainnya.”
Nabi berkata, “Wahai kaum Muslim. Demi Allah dan
demi hakku atas kalian. Barang siapa yang pernah aku zalimi tanpa
sepengetahuanku, berdirilah dan balaslah kezalimanku itu.” Tidak seorang pun
berdiri. Rasulullah lantas mengulangi ucapannya itu, dan tidak seorang pun yang
berdiri. Rasulullah mengulangi kata-kata itu untuk ketiga kalinya, “Wahai kaum
Muslim. Demi Allah dan demi hakku atas kalian. Barang siapa yang pernah aku
zalimi tanpa sepengetahuanku, berdirilah dan balaslah kezalimanku itu, sebelum
aku dibalas pada hari kiamat nanti.”
Tiba-tiba ada seorang kakek berdiri. Kakek itu
melangkah melewati barisan jamaah hingga ia sampai di hadapan Rasulullah. Kakek
itu bernama Ukasyah bin Mihshan.
Ukasyah lantas berkata, “Demi ayah dan ibuku. Andai
engkau tidak mengucapkan kalimat itu sampai tiga kali, pasti aku tidak akan
maju. Dulu, aku pernah bersamamu dalam satu perang. Setelah perang selesai, dan
kita mendapatkan kemenangan, kita segera pulang. Untaku dan untumu berjalan
sejajar. Aku turun dari unta, mendekatimu karena aku ingin mencium pahamu.
Namun, tiba-tiba engkau mengangkat pecut dan pecut itu mengenai perutku. Aku
tidak tahu, apakah kejadian itu engkau sengaja atau engkau ingin memecut unta.”
Rasulullah langsung berkata, “Aku berlindung
kepada Allah dari perbuatan memecutmu dengan sengaja. Wahai Bilal. Pergilah
engkau ke rumah Fathimah, dan ambilkan pecut yang tergantung.”
Bilal langsung berangkat menuju rumah Fathimah.
Tangan Bilal menepuk kepala sambil teriak histeris, “Luar biasa. Ini Utusan
Allah meminta dirinya untuk diqisas (dibalas)!” Sampai di rumah Fathimah, Bilal
mengetuk pintu dan berkata, “Wahai Putri Rasulullah. Ambilkan pecut yang
tergantung itu. Serahkan kepadaku.”
Fathimah bertanya, “Wahai Bilal. Apa yang akan
dilakukan ayahku dengan pecut ini? Bukan hari ini adalah hari haji, bukan hari
perang.”
Bilal menjawab, “Wahai Fathimah. Kamu pasti tahu
akhlak ayahmu. Beliau menitipkan satu agama. Beliau akan meninggalkan dunia
ini. Dan, beliau memberikan kesempatan pada siapa pun untuk membalas (qisas)
kesalahannya.”
Fathimah lantas berkata, “Wahai Bilal. Siapa orang
yang tega menuntut balas (qisas) dari Rasulullah?! Katakanlah kepada Hasan dan
Husein, agar keduanya saja yang menerima pembalasan itu, sebagai pengganti
Rasulullah. Minta orang itu membalas (melakukan qisas) kepada Hasan dan Husein,
dan jangan membalas Rasulullah.”
Bilal kembali ke masjid dan meyerahkan pecut itu
kepada Rasulullah. Rasulullah SAW lantas menyerahkan pecut itu kepada Ukasyah.
Abu Bakar dan Umar segera berdiri dan berkata
kepada Ukasyah, “Wahai Ukasyah. Balaslah kepada kami berdua. Kami ada di
hadapanmu. Jangan engkau balas Rasulullah.”
Rasulullah berkata kepada Abu Bakar dan Umar,
“Diamlah kalian berdua, wahai Abu Bakar dan Umar. Allah tahu ketinggian derajat
kalian berdua.”
Ali pun berdiri dan berkata, “Wahai Ukasyah.
Sepanjang hidupku, aku selalu bersama Rasulullah. Sungguh aku tidak tega
melihat Rasulullah dipecut. Ini badanku. Balaslah. Pecutlah aku seratus kali.
Jangan kau balas Rasulullah.”
Rasulullah berkata, “Wahai Ali. Duduklah. Allah
tahu derajatmu dan niat baikmu.”
Selanjutnya Hasan dan Husein juga berdiri dan
berkata, “Wahai Ukasyah. Engkau kan tahu bahwa kami adalah darah daging
Rasulullah. Engkau membalas kepada kami sama dengan engkau membalas
Rasulullah?”
Rasulullah menjawab, “Duduklah, buah hatiku. Allah
tidak akan melupakan kemuliaan kalian.”
Rasulullah kemudian berkata kepada Ukasyah, “Wahai
Ukasyah. Silakan. Pecutlah aku.”
“Wahai Rasulullah. Ketika engkau memecut perutku,
perutku dalam keadaan terbuka,” kata Ukasyah. Rasulullah SAW langsung
menyingkap pakaian hingga perutnya terbuka.
Jamaah semakin histeris melihat pemandangan itu.
Mereka menangis menjadi-jadi.
Mereka menegur Ukasyah, “Apakah engkau betul-betul
akan memecut Rasulullah, wahai Ukasyah?!..”
Ukasyah lantas melihat perut Rasulullah, dan dia tak
kuasa menahan diri, langsung merangsek tubuh Rasulullah SAW dan menciumi
perutnya. “Demi ayah dan ibuku, siapa orang yang tega melakukan pembalasan
kepadamu, wahai Rasulullah,” ujar Ukasyah.
Rasulullah berkata, “Lastas katakanlah, kau ingin
membalas atau memaafkan aku?”
Ukasyah, “Sungguh aku telah memaafkanmu karena aku
berharap mendapatkan ampunan dari Allah pada hari Kiamat.”
Rasulullah berkata, “Siapa yang ingin melihat
temanku di surga nanti, lihatlah kakek ini.”
Kaum Muslim langsung berdiri mengerubungi Ukasyah
dan menciumi keningnya. Mereka berkata kepada Ukasyah, “Alangkah beruntungnya
kamu. Alangkah beruntungnya kamu. Kamu akan mendapatkan derajat yang sangat
tinggi, berdampingan dengan Rasulullah di surga.“
Setelah peristiwa tersebut, Rasulullah jatuh sakit
selama delapan belas hari. Tepat pada hari Senin, Rasulullah wafat,
meninggalkan dunia yang fana ini. Nabi Muhammad SAW adalah seorang nabi dan
rasul. Ia dijamin masuk surga, bahkan pasti berada di tempat paling tinggi dan
paling mulia di sisi Allah. Namun, beliau begitu hati-hatinya terhadap manusia.
Ia tidak ingin meninggalkan dunia ini, sementara masih ada orang yang “sakit
hati” kepadanya. Beliau minta dibalas (diqisas) agar dirinya tidak dibalas di
akhirat. Fitnah, dusta, caci-maki dan kezaliman lainnya yang disebarkan akan
menjadi tanggung jawab penyebarnya di akhirat nanti. Herannya, para penyebar
fitnah dan para pencaci tenang-tenang saja. Padahal, Nabi begitu gelisah hanya
karena satu kesalahan yang tak disengaja terhadap Sahabat Ukasyah. Fasyhad. Qad
ballaghtul qishah…

0 comments:
Posting Komentar