Alam Rahim
Janji
setia di alam rahim adalah janji yang diucapkan manusia kepada Allah SWT
sebelum lahir ke dunia. Janji ini berupa pengakuan keesaan Allah SWT dan Istiqomah
untuk menyembah-Nya.
berproses dari nuthfah (sperma dan ovum) selama 40 hari. Kemudian berkembang dan
berubah menjadi‘alaqoh (yang menempel di dinding rahim) selama 40 hari. Kemudian
berkembang dan berubah menjadi mudlghoh (segumpal daging). Sesudah berproses selama 40 hari, manusia
yang semula masih dalam bentuk mudlghoh (segumpal daging), telah menjadi sempurna sebagai janin.
Ketika usia kehamilan telah mencapai 120 hari (4 bulan), maka Allah SWT
menyempurnakan penciptaan manusia dengan meniupkan ruh ke dalam tubuh janin.
Pada saat itu, Allah SWT juga mengutus malaikat
untuk menuliskan kembali 4 (empat) ketentuan (takdir atau nasib) yang akan
dialami oleh setiap manusia. Yaitu; (1). Rizkinya (2). Ajal atau masa
kematiannya (3). Amal perbuatannya, baik atau buruk (4). Berbahagia dan
beruntung atau celaka. Sebagaimana difirmankan dalam
surat al-A’raf ayat 189:
“Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang
satu (Adam) dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang
kepadanya. Maka setelah digaulinya, isterinya itu mengandung kandungan yang
ringan, dan teruslah dia merasa ringan (dalam beberapa waktu). Kemudian tatkala
dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya
seraya berkata: Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah
Kami termasuk orang-orang yang bersyukur.”
Demikian juga dalam surat al-Mukminun (23) ayat 12–14:
“Dan sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian
Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh
(rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah
itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang
belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami
jadikan dia, makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah Pencipta Yang
Paling Baik”.
Berdasarkan firman Allah SWT dalam surat al-Mu’minun ayat 12-14
di atas dapat disimpulkan bahwa terbentuknya janin dalam rahim ibu adalah
melalui 6 (enam) tahap (fase) sbb:
Tahap pertama; penciptaan janin
dalam bentuk saripati air mani (nuthfah) yang disebut
sulalah. Allah SWT menjelaskan bahwa manusia diciptakan “dari saripati air mani
yang hina”. Manusia bukan diciptakan dari seluruh mani yang keluar dari
suami–istri, tetapi hanya dari bagian yang sangat halus. Itulah yang dimaksud
dengan “sulalah”. Menurut
riset yang telah dilakukan oleh para ahli anatomi dan embriologi, bahwa manusia
itu tercipta hanya dari satu sel sperma saja. Sungguh hal itu sangat sedikit
sekali bila dibanding dengan jutaan sel sperma yang keluar dari seorang pria.
Sulalah adalah kata yang paling tepat dan cocok untuk menggambarkan proses
terbentuknya janin, karena satu dari jutaan sperma seorang pria bergerak menuju
ke dalam rahim untuk membuahi ovum seorang wanita.
Tahap kedua disebut ‘alaqoh. “Kemudian air mani
itu Kami jadikan segumpal darah (‘alaqoh).” ‘Alaqoh juga berarti nama dari
binatang kecil yang hidup di air dan di tanah (sebangsa lintah) yang terkadang
menempel di mulut binatang pada waktu minum air di rawa–rawa. Bentuk janin pada
fase ini sangat mirip sekali dengan binatang lintah tersebut. Bahkan kalau
keduanya difoto bersamaan, niscaya manusia tidak akan mampu membedakkan bentuk
dan gambar keduanya.
Tahap ketiga, disebut mudghah (segumpal daging).
Dalam kelanjutan surat al-Mukminun di atas dijelaskan, ”Lalu segumpal darah itu
Kami jadikan segumpal daging.”
Tahap keempat ditandai dengan muncul dan
tumbuhnya tulang. “Dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang.” Para
ahli dan spesialis dalam bidang medis telah menyimpulkan bahwa tulang itu
muncul sebelum daging sebagai penutupnya. Setelah itu barulah muncul daging.
Hal ini baru diketahui oleh para ahli pada zaman sekarang, itu pun dengan
bantuan alat–alat fotografi.
Tahap kelima, pembungkusan
tulang dengan daging. “Lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging…”
Didahulukannya penciptaan tulang sebelum daging, karena daging membutuhkan
tulang untuk menempel padanya. Maka tulang mesti sudah ada sebelum daging.
Tahap keenam adalah perubahan janin ke
bentuk yang lain. “Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain…”
Menurut Dr Ahmad Hamid Ahmad, bersamaan dengan berakhirnya pekan ketujuh,
panjang Mudghah sudah mencapai 8–16
milimeter” Termasuk yang membedakan pada periode ini adalah; bahwa tulang yang
semula berbentuk bengkok menyerupai bulan sabit, kini mulai berubah lurus dan
tegap. Di tambah lagi ada sesuatu yang membedakan janin dengan makhluk hidup yang
lain, yaitu sempurnanya bentuk tubuh pada pekan ke delapan. Begitulah, proses
penciptaan janin di dalam rahim seorang ibu, hingga akhirnya dilahirkan pada
usia kehamilan sembilan bulan. Sungguh Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling
Baik.
Proses penciptaan manusia pada ayat di atas,
dijelaskan lebih rinci lagi oleh sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh
Imam al-Bukhari dari sahabat Abdullah ibn Mas’ud RA.
Dari Abdullah ibn Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata: bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam telah bersabda kepada kami, dan beliau adalah orang yang
jujur lagi dipercaya: “Sesungguhnya tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam
rahim ibunya, selama 40 hari berupa nuthfah (air mani yang kental), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah yang menempel di dinding rahim) selama itu
juga (40 hari), lalu menjadi mudghah (segumpal daging) selama itu, kemudian diutus kepadanya
malaikat untuk meniupkannya ruh, dan dia diperintahkan mencatat empat hal
(kalimat) yang telah ditentukan: rezekinya, ajalnya, amalnya, nasibnya apakah
celaka atau bahagia. Demi Dzat Allah yang tiada tuhan selain Dia, sesungguhnya
salah seorang di antara kalian ada yang telah melaksanakan perbuatan ahli surga
sehingga jarak antara dirinya dan surga hanyalah sehasta, namun dia telah
didahului oleh al-kitab (ketetapan/takdir), maka dia mengerjakan perbuatan ahli
neraka, lalu akhirnya dia masuk ke dalamnya (menjadi penghuni neraka). Di
antara kalian ada yang mengerjakan perbuatan ahli al-naar (penduduk neraka),
sehingga jarak antara dirinya dan neraka hanya sehasta. Akan tetapi dia telah
didahului oleh takdirnya, maka dia mengerjakan perbuatan ahli surga, sehingga
akhirnya dia memasukinya (menjadi penghuni surga).”
Di samping tercipta dari unsur tanah yang rendah, secara ruhaniah
manusia tercipta dari ruh Allah Yang Maha Agung. Sebagaimana difirmankan dalam
surat as-Sajdah (32) ayat 9:
“Kemudian Dia
(Allah) menyempurnakan dan meniupkan ke dalam tubuhnya roh (ciptaan)-Nya dan
Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu
sedikit sekali bersyukur”.
Para
ulama telah sepakat, bahwa ruh ditiupkan pada janin ketika janin berusia 120
hari, terhitung sejak pertemuan sel sperma dengan ovum. Artinya, peniupan ruh
tersebut terjadi ketika janin telah berusia empat bulan penuh, masuk bulan
kelima. Ruh adalah suatu unsur rohani yang menjadikan manusia hidup. Adapun
substansi atau hakikat ruh tidak ada manusia yang mampu mengetahui. Hanya Allah
SWT yang mengetahuinya. Sebagaimana telah di firmankan dalam surat al-Isra’
ayat 85:
“Dan mereka bertanya
kepadamu tentang roh. Katakanlah: Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan
tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”

0 comments:
Posting Komentar