Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Rabu, 08 April 2026

Ajaran Tauhid Nabi Isa AS

 Ajaran Tauhid Nabi Isa AS

Beliau membuat bagi mereka apa yang disebut dengan hukum roh. Beliau menaiki gunung dan para sahabat- sahabatnya berdiri di sekitarnya.

Ajaran Tauhid Nabi Isa AS


 Nabi Isa melihat orang-orang yang beriman kepadanya yang terdiri dari orang-orang yang fakir, orang-orang yang menderita, dan orang- orang yang sedih. Jumlah mereka sedikit sebagaimanalazimnya jumlah para pengikut nabi. Gunung      diliputi  dengan    awan    tipis  dan  turunlah    hujan   gerimis.    Isa  mulai berbicara:      "Sungguh    beruntung      bagi   orang-orang     miskin    kerana    mereka memiliki kerajaan langit. Beruntunglah orang-orang yang sedih kerana mereka akan    menjadi    orang-orang     yang   mulia.   Beruntunglah     yang   diserahi   amanat kerana mereka akan mewarisi bumi. Beruntunglah orang- orang yang lapar dan haus     kerana    mereka    akan    dikenyangkan.      Beruntunglah     orang-orang      yang menyayangi       kerana   mereka   akan   disayangi.  

Beruntunglah       orang-orang   yang bersih     hatinya    kerana    mereka     akan    melihat     Allah   SWT.    Beruntunglah orang-orang   yang   tertindas   demi   mempertahankan   kebenaran   kerana   mereka akan mendapatkan kerajaan langit. Kalian adalah garam bumi jika garam telah rosak,   maka   siapa   gerangan   yang   dapat   mengembalikannya   menjadi   garam kembali."     Renungkanlah      kedalaman     ungkapan     dari  Nabi   Isa,  "kalian  adalah garam bumi."

Garam   adalah   sesuatu   yang   memberikan   rasa   yang   khusus   dan   tanpa   garam makanan akan menjadi hambar. Yakni, tanpa orang-orang mukmin, maka cita rasa   kehidupan   terasa   tidak   bermakna;   tanpa   kehadiran   orang-orang   Muslim dan perbuatan mereka yang ikhlas terhadap Allah SWT akan tampak kehidupan sangat   berat   dan   tidak   berarti.   Di   samping   itu,   kehadiran   manusia   sebagai khalifah Allah SWT di muka bumi pun sia-sia, dan keagungan manusia sebagai hamba   Allah   SWT   pun   tidak   bermakna,   dan   pada   gilirannya   kehidupan   akan dipenuhi dengan kejahatan dan keburukan. Allah    SWT   teiah   mewahyukan       kepada    "garam    bumi"   agar   mereka    beriman kepada Nabi Isa.

Allah SWT berfirman: "Dan   (ingatlah),   ketika   Aku   ilhamkan   kepada   pengikut-pengikut           Isa   yang setia:   

 'Berimanlah      kamu     kepada-Ku       dan    kepada      rasul-Ku.'    Mereka menjawab:        'Kami   telah   beriman     dan   saksikanlah     (wahai    rasul)   bahawa sesungguhnya   kami   adalah   orang-orang   yang   patuh   (kepada   seruanmu).'" (QS. al-Maidah: 111) Al-Hawariyin   mengakui   kebenaran   ajaran   Nabi   Isa   dan   mereka   menyatakan keislaman kepadanya, sebagaimana ratu Saba' mengakui kebenaran ajaran Nabi Sulaiman   dan   menyatakan   keislaman   padanya, dan   sebagaimana   semua   para nabi    menyatakan       keislaman.    Hakikat    ajaran    para   nabi    terbatas    kepada pernyataan keislaman dan semua nabi menyeru kepada jalan tauhid dan jalan Islam. Islam dalam pandangan kami memiliki makna yang lebih dalam daripada tauhid.     Pengakuan      seseorang    terhadap    Allah   SWT    dan    keimanan     akan keesaan-Nya      dalam    menciptakan     makhluk     tidak  mencegah      orang   itu  untuk berbuat dosa, sedangkan keislaman atau penyerahan hati dan anggota badan serta   pemikiran   kepada   Allah   SWT   merupakan   suatu   tingkatan   sedikit   lebih tinggi.   Ini  adalah   tingkat   kepatuhan     orang-orang     yang   patuh  dan   puncak ketauhidan orang-orang yang bertauhid. Itu adalah keserasian antara tindakan dengan      fikiran,  yaitu   usaha    manusia     untuk   menghindari      kesalahan     dan memurnikan   amal   hanya   untuk   Allah   SWT.   Al-Quran   al-   Karim   memberitahu kita bahawa Allah SWT menyampaikan wahyu kepada al-Hawariyin agar mereka beriman kepadanya dan kepada Rasul-Nya Isa. Marilah     kita  renungkanlah      sejenak    tentang     wahyu    Allah   SWT    terhadap Hawariyin.   Kita   mengetahui   bahawa   Allah   SWT   mewahyukan   kepada   manusia dan kepada makhluk-makhluk lainnya.

Allah SWT berfirman: "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mewahyukan kepada lebah..." (QS. an-Nahl: 68) Yang dimaksud dengan wahyu di sini adalah memberikan ilham kepada makhluk agar    mereka    menuju    ke   jalan  fitrahnya   yang   telah   Allah  SWT    gariskan   di atasnya sehingga mereka mencapai jalan kesempurnaan. Tidakkah Anda ingat tentang jawapan Nabi Musa terhadap pertanyaan Fira'un: "Fir'aun berkata: 'Siapakah Tuhan kamu berdua wahai Musa. " (QS. Thaha: 49) "Musa   berkata:   'Tuhan   kami   ialah   (Tuhan)   yang   telah   memberikan   kepada tiap-tiap   sesuatu   bentuk   kejadiannya   kemudian   memberinya   petunjuk.   " (QS. Thaha: 50) Makna di sana dan di sini sama. Makna yang sama tersebut diterapkan kepada kaum Hawariyin di mana wahyu Allah SWT terhadap mereka berupa pemberian ilham   kepada   mereka   demi   kebaikan   mereka   dan   kebahagiaan   mereka,   dan wahyu ini tidak bertentangan dengan ikhtiar mereka dan usaha mereka serta keinginan mereka, bahkan tidak bertentangan dengan kebebasan mereka. Allah SWT   telah   melihat   hati   mereka   yang   dipenuhi   dengan   kebaikan.   Dia   melihat mereka   sebagai   garam   bumi,   maka   Allah   SWT   mewahyukan   kepada   merekaagar    beriman    kepadanya    dan   rasul-Nya   sehingga    mereka    pun   beriman    dan mereka     pun   bersaksi   bahawa    mereka    orang-orang     yang   berserah   diri  atau Muslim. Tampaknya   kaum   Hawariyin   menyembunyikan   keimanan   mereka   sehingga   Isa merasakan      kekufuran     kaumnya     semakin    menjadi-jadi     lalu  Isa  memanggil mereka:   "Siapakah   di   antara   kalian   yang   menolong   aku   menuju   jalan   Allah SWT?" Allah SWT berfirman: "Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran dari mereka (Bani Israil) berkatalah dia: 'Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk menegakkan (agama) Allah?' Para Hawariyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: 'Kamilah penolong-penolong    (agama)  Allah.    Kami    beriman     kepada     Allah;    dan saksikanlah       bahawa      sesungguhnya        kami     adalah   orang-orang      yang menyerahkan   diri.   Ya   Tuhan   kami,   kami   telah   beriman   kepada   apa   yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, kerana itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang- orang yang menjadi saksi.'" (QS. Ali 'Imran: 52-53) Nas Al-Quran menunjukkan bahawa Nabi Isa mengajak mereka untuk mengikuti Islam   sehingga   mereka   pun   berserah   diri;

0 comments:

Posting Komentar