Ajaran Nabi Isa AS
ketika al-Masih datang, maka semua pengikutnya akan merampas kekayaan dan kejayaan di dunia ini lalu ia hanya memberi mereka ketenangan dan kedamaian. Ketika al-Masih datang, ia menjelaskan kepada para muridnya bahawa hal tersebut tidak benar,
kerana jika ia datang untuk memberikan kedamaian kepada para pengikutnya, maka mereka akan terancam kelaliman dan mereka akan mati kerana tajamnya pedang. Maka hendaklah mereka tidak mengharapkan kedamaian tetapi peperangan; hendaklah mereka tidakmengharapkan keserasian tetapi perpecahan." Demikianlah masyarakat Yahudi terbagi menjadi dua kelompok: kelompok orang-orang yang fakir, orang-orang yang lemah dan orang-orang yang bersih hatinya bersama Isa, sedangkan kelompok majoriti menentang Isa. Bahkan kelompok majoriti kafir itu sering menyakiti Isa. Injil Mata menceritakan penderitaan al-Masih pada pasal ke-11. Ia menceritakan bagaimana kemarahan al-Masih terhadap orang-orang yang tidak mengabdi kepada Yuhana (Yahya) dengan baik atau mengabdi kepadanya secara peribadi dengan baik. Injil Mata mengutip pernyataan Isa sebagai berikut: "Dengan apa aku
menyerupakan generasi ini, Sesungguhnya mereka menyerupai anak-anak kecil yang duduk di pasar yang berteriak-teriak memanggil teman-teman mereka sambil berkata: "Kami telah meniup seruling tetapi kalian tidak menari. Kami mengasihi kalian tetapi kalian tidak menangis." Yuhana telah datang dan tidak makan dan minum tetapi mereka mengatakan, sesungguhnya ia terkena syaitan. lalu datanglah seorang anak manusia yang makan dan minum lalu mereka mengatakan, ia adalah seorang yang ahli makan dan ahli minum khamer." Dokumen itu menunjukkan penderitaan al-Masih dan menyingkap peperangan yang akan dihadapinya. Penderitaan yang dialami oleh hati suci al-Masih adalah sebagai tindakan generasi tersebut di mana beliau diutus di dalamnya sebagai orang yang memberi petunjuk dan menyampaikan berita gembira tentang kerajaan langit.
Beliau menyerupakan generasi Yahudi itu dengan anak-anak kecil yang duduk- duduk di pasar sambil berteriak-teriak memanggil teman-teman mereka sambil berkata: "kami telah meniup seruling tetapi kalian tidak menari.
Kami berbelas kasih kepada kalian tetapi kalian tidak menangis." Al-Masih mengisyaratkan dengan pernyataan itu tentang apa yang diperbuat anak- anak kecil saat mereka bermain-main, di mana biasanya mereka meniru orang-orang yang besar saat mereka bergembira dengan menari-nari dan saat mereka sedih mereka menangis. Demikianlah mereka sangat cepat berubah antara bergembira dan sedih tanpa melalui pertimbangan dan kesedaran. Demikianlah keadaan orang-orang Yahudi saat mereka mengabdi kepada Yahya, kemudian saat mereka mengabdi kepada al- Masih. Yahya telah datang kepada mereka dalam keadaan menangis, tidak makan dan tidak minum dari apa yang mereka makan dan yang mereka minum. Ia tidak bergaul dengan sembarangan manusia. Telah datang kepada mereka seorang nabi yang ahli ibadah tetapi kebanyakan mereka menolaknya dan mereka mengatakan bahawa ia terkena syaitan. Kemudian datang kepada mereka al-Masih di mana ia makan dan minum bersama pada acara walimahdan hari raya lalu mereka pun menolaknya dan mengatakan bahawa ia suka makan dan minum khamer padahal beliau adalah cermin terbesar dalam menghilangkan syahwat dan kesucian yang sempurna. Alhasil, generasi itu adalah generasi yang main-main Iayaknya anak kecil. Tidak ada sesuatu pun yang dapat mempengaruhi mereka dan mereka tidak mau bertaubat. Meskipun demikian, di sana terdapat kelompok kecil dari manusia yang terpengaruh dan bertaubat. Dokumen tersebut menunjukkan betapa beratnya penderitaan Isa di tengah-tengah generasi yang sezaman dengannya. Isa mengalami banyak penderitaan dalam menyampaikan dakwahnya.
Isa banyak menderita di tengah-tengah kaum yang fikiran mereka belum matang. Mereka tak ubahnya seperti anak- anak kecil yang suka bermain-main. Kaum yang tak tergugah oleh kalimat-kalimat yang baik dan mereka tidak bergerak atau tersentuh ketika menyaksikan mukjizat-mukjizat yang luar biasa. Allah SWT kembali memperkuat Isa dengan mukjizat-mukjizat yang mengagumkan. Mukjizat di sini adalah senjata yang diberikan Allah SWT kepada nabi-Nya agar nabi tersebut menjadi tenteram dan agar menambah keyakinan orang-orang yang beriman kepadanya, sedangkan bagi orang-orang kafir mukjizat tersebut justru menambah kekufuran mereka sehingga Allah SWT memberikan pembalasan yang setimpal kepada kedua kelompok tersebut. Mukjizat yang Allah SWT berikan kepada Isa bin Maryam yang lain adalah, Allah SWT mengabulkan doa Hawariyin dengan menurunkan makanan dari langit. Allah SWT berfirman: "(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata: 'Hai Isa putera Maryam, bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?' Isa menjawab: 'Bertakwalah kepada Allah jika betul- betul kamu orang yang beriman.' Mereka berkata: 'Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahawa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu.' Isa putera Maryam berdoa: 'Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan-Mu:
beri rezekilah kami dan Engkaulah Pemberi rezeki Yang Paling Utama.' Allah berfirman: 'Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barang siapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan) itu, maka sesungguhnya Aku akan menyeksanya dengan seksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.'" (QS. al-Maidah: 112-115)
Barangkali kita terhairan-hairan ketika memperhatikan perkataan Hawariyin, "wahai Isa bin Maryam, apakah Tuhanmu mampu?" Mungkin pertama-tama yang terlintas dalam fikiran kita berkenaan dalam ayat tersebut adalah, keraguan Hawariyin terhadap kekuatan atau kekuasaan Allah SWT. Bagaimana hal itu mampu mereka laku-kan sedangkan mereka adalah murid-murid Isa yang beriman dan berserah diri kepada Allah SWT? Berkaitan dengan tafsir ayat tersebut, para ulama berbeza pendapat. Sebahagian ulama mengatakan, bahawa pertanyaan mereka 'apakah Tuhanmu mampu?' Yakni, berarti apakah Tuhanmu bisa? Kemudian mereka mencarikan alasan yang membenarkan perkataan Hawariyin itu dengan mengatakan bahawa pertanyaan itu dilontarkan saat mereka baru saja mengikuti Isa, sebelum mereka banyak mengetahui Allah SWT. Oleh kerana itu, Isa berkata dalam jawapannya terhadap pertanyaan mereka, bertakwalah kepada Allah SWT jika kamu benar-benar orang mukmin. Yakni, janganlah kalian meragukan kekuasaan atau kekuatan Allah SWT. Qurthubi menampik tafsir ini. Hawariyin adalah para penolong Allah SWT, sesuai dengan nas Al-Quran dan tentu tidak boleh bagi penolong Allah SWT untuk tidak mengetahui kekuatan-Nya, apalagi meragukan kekuasaan-Nya. Sebahagian ulama mengatakan bahawa perkataan tersebut dikeluarkan orang-orang yang bersama Hawariyin yang berasal dari Bani Israil dan tidak seorang pun dari Hawariyin yang mengatakan demikian kecuali mereka hanya sekadar menukil perkataan tersebut.
Ada pendapat lain lagi yang mengatakan bahawa ayat tersebut tidak dibaca 'hal yastathi' rabbuka' tetapi dibaca 'hal tastathi' rabbaka' sebagaimana bacaan Aisyah dan sebagaimana dibaca oleh Nabi. Maknanya, "apakah engkau mampu menghadirkan kekuatan Tuhanmu terhadap apa yang engkau minta." Ada pendapat yang lain mengatakan ia dibaca 'hal tastathi' rabbaka', yakni "apakah engkau mampu untuk berdoa kepada Tuhanmu atau meminta-Nya." Sebahagian kaum sufi berpendapat bahawa kaum Hawariyin bukan tidak mengetahui kekuasaan Allah SWT tetapi pertanyaan itu justru bersumber dari cinta kepada Allah SWT dan keinginan menyaksikan kekuasaan Allah SWT. Sikap mereka ini menyerupai dengan perbezaan tingkatan sikap Nabi Ibrahim as ketika beliau mengatakan: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati?' Allah berfirman: 'Apakah kamu belum percaya?' Ibrahimmenjawab: 'Saya telah percaya, tetapi agar bertambah mantap hatiku.'" (QS. al-Baqarah: 260) Oleh kerana itu, kaum Hawariyin berkata: "Dan hati kami menjadi mantap," sebagaimana Nabi Ibrahim berkata: "Agar bertambah mantap hatiku." Inilah tafsir yang membuat kita puas dan membuat hati kita tenang. Nabi Isa menjawab pertanyaan mereka: 'Bertakwalah kepada Allah jika betul-betul kamu orang yang beriman.' Yakni, hati-hatilah kalian dengan banyak bertanya dan menguji Allah SWT kerana kalian tidak mengetahui apa yang boleh kalian minta untuk didatangkan bukti- bukti kekuasaan Allah SWT. Perkataan Nabi Isa, jika kalian benar-benar beriman terfokus kepada apa yang dibawanya yang berupa mukjizat- mukjizat atau tanda-tanda kebesaran Allah SWT.
Nabi Isa bermaksud untuk mengatakan, sesungguhnya apa yang telah aku bawa dari mukjizat- mukjizat bagi kalian seharusnya sudah cukup membuat hati kalian mantap. "Mereka berkata: 'Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahawa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu.'" Kaum Hawariyin menjelaskan kepada Isa sebab pertanyaan mereka ketika beliau melarangnya. Jika Nabi Isa keluar, maka beliau diikuti lima ribu orang atau lebih. Sebahagian mereka dari kalangan Hawariyin dan sebahagian yang lain campuran di antara pengikutnya dan musuhnya.
Dikatakan bahawa mereka berpuasa dan mereka tidak mempunyai makanan, lalu para pengikut berkata kepada kaum Hawariyin, "Tanyalah kepada Isa apakah ia mampu berdoa kepada Tuhannya sehingga diturunkan kepada kita makanan dari langit." Kemudian kaum Hawariyin pergi dengan membawa surat kaum itu kepada Isa. Ketika Isa meminta mereka untuk merasa cukup dengan mukjizat-mukjizat sebelumnya, mereka kembali melontarkan kebenaran permintaan mereka: 'Kami ingin memakan hidangan itu. Mereka adalah orang-orang yang lapar sementara mereka tidak mempunyai makanan. Dan supaya tenteram hati kami. Hati kaum Hawariyin menjadi tenang seperti tenangnya hati Ibrahim. Dan para pengikut pun merasa hatinya tenang dan mengakui bahawa Isa adalah Nabi yang diutus untuk mereka.
Dan hati musuh juga menjadi tenang kerana mereka menyaksikan kebatilan mereka sehingga pilihan mereka untuk tidak mengikuti Isa berakibat pada suatu saat mereka akan diminta pertanggungjawaban. "Dan supaya kami yakin bahawa kamu telah berkata benar kepada kami. Yakni kami mengetahui bahawa engkau utusan Allah. Dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu. Yakni, kami menyaksikan keesaan Allah danrisalah dan kenabianmu. Dan bagi orang lain yang tidak menyaksikannya, maka kami akan menceritakan kepada mereka peristiwa yang terjadi." Isa putera Maryam berdoa: 'Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan-Mu: beri rezekilah kami dan Engkaulah Pemberi rezeki Yang Paling Utama.' Ketika kaum Hawariyin bertanya kepada Isa bin M aram agar diturunkan makanan dari langit, maka Nabi Isa berdiri dan meletakkan pakaian dari kulit wol kemudian beliau melangkahkan kakinya dan meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya, lalu beliau menundukkan kepalanya dalam keadaan khusyuk dan tunduk kepada Ala SWT. Kemudian beliau membuka matanya dan menangis sehingga air matanya membasahi janggutnya bahkan mencapai dadanya dan berkata: 'Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit... Allah berfirman: 'Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu. Lalu turunlah makanan besar dari celah dua awan: satu awan di atasnya satu awan di bawahnya. Saat itu manusia melihatnya. Nabi Isa berkata, "Ya Allah jadikanlah makanan ini sebagai rahmat dan jangan menjadi fitnah." Lalu turunlah di depan Nabi Isa sapu tangan yang menutupinya kemudian Nabi Isa tersungkur dalam keadaan sujud yang diikuti oleh kaum Hawariyin.
Mereka mendapati suatu bau yang harum yang belum pernah mereka temukan sebelumnya. Nabi Isa berkata, "Siapakah di antara kalian yang paling ikhlas dan paling percaya kepada Allah SWT agar ia membuka makanan itu sehingga kita bisa makan darinya serta berzikir kepada Allah SWT atasnya serta bersyukur kepadanya." Kaum Hawariyin berkata: "Wahai Ruhullah sesungguhnya engkau lebih berhak daripada kami dalam hal itu.", maka Nabi Isa berdiri lalu beliau mengambil wuduk dan solat. Kemudian beliau banyak berdoa sambil duduk di sisi makanan itu dan membukanya. Tiba- tiba di atas makanan itu terdapat ikan yang lezat yang tidak ada durinya. Nabi Isa ditanya: "Wahai Ruhullah, apakah ini makanan dari dunia atau dari syurga?" Nabi Isa menjawab: "Bukankah Tuhan kalian melarang kalian untuk bertanya pertanyaan semacam ini. Ia turun dari langit dan tidak ada makanan sepertinya di dunia dan ia bukan berasal dari syurga tetapi ia adalah sesuatu yang Allah SWT ciptakandengan kekuasaan yang luar biasa di mana Dia cukup mengatakan "jadilah, maka jadilah." Para mufasir berbeza pendapat sekitar bentuk makanan yang diturunkan kepada Isa, apakah itu ikan atau daging? Apakah roti atau buah-buahan? Kami memandang bahawa pembahasan-pembahasan ini kurang penting. Sesuatu yang paling penting yang perlu kita perhatikan adalah apa yang dikatakan oleh Nabi Isa, Sesungguhnya ia diciptakan oleh Allah SWT dengan kekuasaan yang mengagumkan di mana Dia cukup mengatakan "Jadilah, maka jadilah ia." Inilah hakikat makanan tersebut. Ia merupakan tanda-tanda kebesaran Allah SWT yaitu suatu tanda yang Allah SWT mengancam bagi siapa yang menentangnya Dia akan menyeksanya dengan azab yang belum pernah diterima oleh seseorang pun di dunia. Para ulama berbeza pendapat apakah makanan tersebut memang diturunkan atau tidak, tetapi menurut pendapat majoriti dan ini yang benar makanan tersebut memang diturunkan, sesuai dengan firman Allah SWT: "Aku akan menurunkan hidangan itu bagimu. " Dikatakan bahawa ribuan pengikut Nabi Isa memakannya dan makanan tersebut tidak habis. Setiap orang yang buta ia sembuh dari butanya dan setiap orang yang belang ia sembuh dari belangnya akibat memakan hidangan itu.
Alhasil, setelah menyantap makanan itu, orang yang sakit sembuh dari penyakitnya. Maka hari turunnya makan itu dijadikan hari raya dari hari raya-hari raya kaum Hawariyin dan para pengikut Nabi Isa. Kemudian berita dan peristiwa turunnya makanan itu mulai hilang dan mulai dilupakan sehingga kita tidak menemukan beritanya hari ini di Injil- Injil yang mereka akui. Setelah peristiwa makanan yang Allah SWT ceritakan dalam surah al-Maidah, Allah SWT menunjukkan kepada kita sikap lain dari Nabi Isa bin Maryam. Allah SWT berkata setelah menceritakan kepada kita tentang turunnya mukjizat makanan dari langit: "Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: 'Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah!' Isa menjawab: 'Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau beri padaku (mengatakan)nya yaitu: 'Sembahlah Allah, Tuhanku, dan
Tuhanmu,' dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau menyeksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.' Allah berfirman: 'lni adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka syurga yang di bawahnya mengalir sungai- sungai; mereka kekal di dalamnya selama-selamanya; Allah redha terhadap mereka dan mereka pun redha terhadap-Nya.
Itulah keberuntungan yang paling besar.' Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. " (QS. al-Maidah: 116-120) Dengan ayat-ayat tersebut, Al-Quran menutup surah al-Maidah. Demikianlah konteks Al-Quran berpindah secara mengejutkan dari turunnya makanan kepada sikap atau dialog antara Allah SWT dan Isa bin Maryam pada hari kiamat. Allah SWT bertanya pada hari kiamat: 'Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?' Para ahli ilmu sepakat bahawa pertanyaan tersebut bukan bersifat pertanyaan murni meskipun tampak dalam bentuk pertanyaan kerana Allah SWT mengetahui apa yang dikatakan oleh Isa. Tentu yang dimaksud dengan pertanyaan itu adalah sesuatu yang lain. Ada yang mengatakan bahawa Allah SWT bermaksud memberitahu Isa bahawa kaumnya telah mengubah ajarannya sepeninggalannya. Dan mereka telah mendapatkan fitnah. Ada lagi yang mengatakan bahawa Allah SWT bermaksud dari pertanyaan itu untuk mencela orang-orang yang mengubah akidah Nabi Isa setelah beliau tidak ada. Kami kira pertanyaan tersebut memuat dua makna dan mencakup makna yang lain.

0 comments:
Posting Komentar