Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Jumat, 13 Februari 2026

sejarah haikal sulaiman


 Haikal Sulaiman

Tempat ibadah Sulaiman atau Haikal Sulaiman terletak di Ursyilim (Yarusalem). Ia adalah sentral ibadah kaum Yahudi dan simbol sejarah kaum Yahudi serta sebagai     kebanggaan      mereka.     Raja    Sulaiman     telah   membangunnya         dan mengeluarkan        harta   yang   tidak   sedikit   untuk   mendirikannya.    

sejarah haikal sulaiman

  Bahkan     ia memerlukan seratus delapan puluh ribu pekerja. Sulaiman telah mendatangkan emas dari Thirsis dan kayu dari Lebanon dan batu mulia dari Yaman. Setelah tujuh tahun dari pembangunan yang terus-menerus, Haikal Sulaiman menjadi sempurna. Saat itu ia menjadi kekaguman dan simbol kejayaan di dunia.

Berulang     kali  ada   usaha   untuk   menghancurkan       bangunan     tersebut.   Orang- orang yang tamak dan para penyerang bertujuan untuk merampas harta benda yang     bernilai   yang    terdapat    dalam     Haikal    Sulaiman.    Mereka     merosak sebahagian   darinya   lalu   salah   seorang   raja   berusaha   memperbaikinya   kerana saking cintanya kepada orang-orang Yahudi. Pada kali ini pembangunan tempat beribadah itu membutuhkan waktu empat puluh enam tahun sehingga ia pun menjadi   suatu   bangunan   yang   besar   yang   menakjubkan   yang   dikelilingi   oleh tiga   pagar   besar.   Ia   terdiri   dari   dua   halaman   besar:   yaitu   halaman   luar   dan halaman      dalam.   Halaman     dalam    dibangun    di  atas  tiang-tiang   ganda    yang terbuat dari marmar. Sedangkan halaman luar dari tempat ibadah itu meliputi gerbang-gerbang   besar   yang   ditutup   oleh   emas   dan   sepuluh   pintu   gerbang dilapisi dengan tembaga Kurnusus. Para raja terus memberikan hadiah untuk pembangunan dan penyempurnaan tempat ibadah itu sampai akhir zamannya, sehingga   tempat   peribadatan   itu   memuat   perbendaharaan   harta   yang   tidak ternilai.

Tujuan   utama   dari   pembangunan   Haikal   Sulaiman   adalah   untuk   menyembah kepada   Allah   s.w.t   di   dalamnya.   Tempat   ibadah   itu   merupakan   masjid   bagi orang-orang   yang   bertauhid   dan   orang-orang   mukmin.   Tentu   keindahan   dan kebesarannya tidak dimaksudkan memalingkan manusia dari menyembah selain Allah    s.w.t.   Dan   barangkali    kebesaran     bangunan     itu   merupakan     simbol kekuatan   negara   dan   kekuatan   akidahnya.   Namun   sesuai   dengan   perjalanan waktu,     mulailah   terjadi   perubahan     dan  penyimpangan.       Seharusnya    ibadah hanya     ditujukan   kepada    Allah   s.w.t,  tiba-tiba   kaum    berpaling   dan   malah mengagumi kulit dan meninggalkan hakikat.

Akhirnya,     nasib    tempat    ibadah     itu  sama     dengan    nasib    yang   dialami tempat-tempat       ibadah    lainnya.   Haikal  Sulaiman    adalah    simbol   tauhid   dan penyembahan        kepada    Allah   s.w.t  yang    tiada  sekutu    bagi-Nya.    Kemudian berlalulah     tahun    demi    tahun    sehingga    berubahlah      haikal   itu   menjadi lempengan       emas     yang    mengkilat    yang    menyembunyikan         di   bawahnya kepentingan agama Yahudi.

"Orang-orang       Yahudi   menodai     kesucian     tempat    ibadah    itu  dan   mereka melecehkan   keindahannya   di   mana   mereka   menjadikannya   sebagai   pasar, tempat     jual-beli.   Kemudian     tempat    itu  disesaki   oleh   para   penjual   sapi, kambing,      dan   merpati     hingga   tempat     itu  menjadi    kotor    dan   berubah menjadi kandang binatang. Di tempat itu terjadi kegaduhan dan kebisingan di   mana   orang-orang   melakukan   transaksi   jual-beli   dan   menukar   wang   di situ." (Injil Matta)

Ketika   tempat   ibadah   itu   kehilangan   hakikatnya   dan   menjadi   pasar   tempatberdagang, Allah s.w.t mengutus orang-orang yang menghancurkan tempat itu.

Allah s.w.t berfirman:

"Dan     telah    Kami     tetapkan     terhadap      Bani   Israil   dalam     kitab    itu: 'Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti   kamu   akan   menyombongkan   diri   dengan   kesombongan   yang   besar. Maka   apabila   datang   saat   hukuman   bagi   (kejahatan)   pertama   dari   kedua (kejahatan)       itu,  Kami    datangkan      kepadamu       hamba-hamba        Kami    yang mempunyai          kekuatan       yang     besar,      lalu    mereka       merajalela       di kampung-kampung,   dan   itulah   ketetapan   yang   pasti   terlaksana.   Kemudian Kami   berikan   kepadamu   giliran   untuk   mengalahkan   mereka   kembali   dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu sekelompok yang lebih besar. Jika kamu berbuat baik (bererti) kamu berbuat      baik   bagi  dirimu    sendiri    dan   jika  kamu     berbuat    jahat,   maka (kejahatan)       yang    kedua,     (Kami     datangkan      orang-orang       lain)   untuk menyuramkan         muka-    muka     kamu    dan   mereka     masuk    ke   dalam    masjid, sebagaimana        musuh-     musuhmu       memasukinya        pada    kali   pertama     dan membinasakan           sehabis-habisnya        apa     saja     yang     mereka       kuasai. Mudah-mudahan   Tuhanmu   akan   melimpahkan   rahmat-Nya   kepadamu;   dan kiranya     kamu     kembali     kepada     (kederhakaan),       nescaya     Kami    kembali (mengazabmu) dan Kami jadikan neraka Jahanam penjara bagi orang- orang yang tidak beriman." (QS. al-Isra': 4-8)

Ayat-ayat     tersebut    menunjukkan       tentang    hukum    azali   yang   tidak   pernah berubah pada kehidupan bangsa dan umat di mana umat itu akan tampak kuat selama     mereka     berpegangan      dengan    tali  Allah   s.w.t   dan   ketika   mereka meninggalkan   hakikat   kekuatan.   iaitu   kekuatan   yang   bersandar   kepada   Allah s.w.t    dan   mereka     memilih    menyembah       selain-Nya    dan   menjadikan     dunia sebagai     tujuan   hidup    mereka,    maka    ketika   ini  terjadi,   Allah   s.w.t  akan mengutus kepada mereka orang-orang yang menghancurkan mereka.

Para    mufasir    menyebutkan       bagaimana      terjadinya    peristiwa   penghancuran Haikal Sulaiman dan penghancuran Baitul Maqdis. Mereka mengatakan: "Allah s.w.t   mewahyukan   kepada   salah   seorang   nabi   dari   kalangan   Bani   Israil   yang bernama       Armiya    ketika   muncul     berbagai     kemaksiatan     di   tengah-tengah mereka,   hendaklah   engkau   menyampaikan   kepada   kaummu   dan   beritahukan kepada   mereka   bahawa   mereka   memiliki   hati   tetapi   mereka   tidak   mengerti; mereka   memiliki      mata   tetapi   mereka   tidak   melihat;     dan  mereka   memiliki telinga tetapi mereka tidak mendengar.

Kemudian      nabi   itu  menerima     wahyu     dan  ia  diperintahkan     untuk   bertanya kepada     Bani   Israil,  apakah    salah   seorang    mereka    merasa    gembira     ketika bermaksiat kepada Allah s.w.t, dan apakah seseorang merasa sedih dan gelisah ketika taat kepada Allah s.w.t. Haiwan biasanya ingat kepada tempat asalnya dan kembali kepadanya, sedangkan kaum itu justru meninggalkan asal-muasal mereka yang hakiki, yaitu hakikat tauhid. Jadi, sebenarnya mereka lebih jahat dari binatang."

Demikianlah kalimat-kalimat Ilahi disampaikan di tengah-tengah para pendeta dan   para   penguasa,   namun   para   pendeta   justru   membuat   tuhan   lain   selain Allah    s.w.t   dan   mereka     menggiring     manusia     untuk   menyembah       sesama manusia.   Adapun   para   penguasa,   mereka   membangkang   pada   nikmat   Allah s.w.t dan merasa tenang dengan azab Allah s.w.t yang dahsyat. Mereka tertipu dengan     dunia.    Mereka    mencampakkan        Kitab   Allah   s.w.t   dan   melupakan janji-Nya.     Mereka     mengubah-ubah        Kitab    Allah   s.w.t   (Taurat).     Mereka menciptakan kebohongan kepada para rasul-Nya dan membunuh mereka tanpa alasan yang benar.

Sedangkan para fuqaha dan orang-orang cerdik, mereka mempelajari sesuatu sesuai dengan kepentingan mereka. Mereka mengambil sebahagian Kitab dan meninggalkan   sebahagiannya.   Mereka   mendukung   para   penguasa   yang   lalim yang membuat penyelewengan dalam agama. Mereka justru mentaati penguasa itu meskipun benar-benar bermaksiat kepada Allah s.w.t. Mereka membatalkan perjanjian dengan Allah s.w.t.

Sementara itu, anak-anak nabi, maka mereka menjadi orang-orang yang kalah. mereka berharap agar Allah s.w.t menolong mereka seperti ayah- ayah mereka ditolong.   Mereka   tidak   ingat   bagaimana   sikap   wara'   ayah-   ayah   mereka   dan bagaimana       mereka     mencurahkan       usaha    mereka,     bahkan    darah    mereka tertumpah tetapi mereka sabar dan mereka tetap percaya kepada janji Allah s.w.t, sehingga Dia memuliakan agamanya dan memenangkan mereka.

Demikianlah       Armiya     terus   menyiarkan       berita   tentang     kebenaran      dan mengingatkan       kaumnya     dan    memberi     mereka    kesempatan      terakhir   untuk bangkit     dan   kembali    pada   agama     tauhid.   Kalau   tidak,   Allah   s.w.t   akan mengutus kepada mereka seorang penguasa yang bengis di mana pasukannya bagaikan sekawanan awan yang akan menghancurkan bangunan-bangunan yang mereka bangun dan akan meninggalkan desa yang mereka huni dalam keadaan yang   mengerikan.   Ibnu   Katsir   berkata   dengan   menukil   apa   yang   dinyatakan oleh Ibnu Asakir:

"Duhai     Ilya   dan     penghuninya,      bagaimana       mereka     dihinakan     dengan pembunuhan        dan   mereka     menjadi    tawanan-tawanan        yang    hina,   tempat-tempat istana mereka yang mengagumkan menjadi tempat-tempat tinggalnya haiwan-haiwan buas. Aku akan menghancurkan mereka dengan berbagai azab. Jika langit menurunkan hujan di atas bumi, maka bumi tidak akan tumbuh. Bila tumbuh suatu tumbuhan di bumi, maka itu adalah sebagai rahmat-Ku terhadap binatang-binatang.       Jika  mereka    menanam      sesuatu,    maka    tanaman    mereka akan dikuasai oleh hama dan jika ada tumbuhan yang selamat darinya, maka Aku akan cabut darinya keberkahan, dan jika mereka berdoa Aku tidak akan mengabulkan   dan   jika   mereka   meminta,   maka   Aku   tidak   akan   memberi   dan jika   mereka   menangis,   maka   aku   tidak   akan   menyayangi,   dan   jika   mereka berusaha   bersikap   rendah   diri,   maka   Aku   akan   memalingkan   wajah-Ku   dari mereka."

Ilya   menyampaikan       kepada    kaumnya     tentang    azab   Allah   s.w.t  yang    akan meliputi   segala   sesuatu,   namun   orang-orang   Yahudi   menyambut   dakwahnya dengan      kebohongan      dan   kemaksiatan      dan    mereka     menuduhnya       dengan kebohongan.

Mereka     berkata    kepadanya,      "Bagaimana     engkau    berbohong     dan   mengaku bahawa Allah s.w.t akan menghancurkan bumi-Nya dan masjid-masjid- Nya lalu siapa yang akan menyembah-Nya jika tidak ada seorang pun di muka bumi yang menyembah-Nya, juga tidak ada masjid dan tidak ada Kitab. Sungguh engkau telah gila wahai Ilya." Akhirnya pertentangan antara Ilya dan kaumnya berakhir pada   pemenjaraannya.   Pada   saat   yang   sama,   datanglah   pasukan   Bakhtansir menuju   mereka.   Orang-orang   Yahudi   terkejut   ketika   mendengar   suara   derap kaki kuda dan suara panah-panah yang melayang dan bau kebakaran. Pasukan itu memasuki desa-desa dan kota-kota. Mereka mengelilingi segenap penjuru kota    dan   desa.   Pemimpin     pasukan    itu  menyerbu     orang-orang     Yahudi    dan menghancurkan        mereka:     sepertiga   dibunuh,    sepertiga    ditawan,    sementara wanita-wanita tua dan lelaki-lelaki tua dibiarkan hidup.

Baitul   Maqdis   dihancurkan   dan   tempat   ibadah   itu   pun   hancur.   Orang-   orang laki-laki    dibunuh      dan    benteng-benteng        kukuh     pun    dibakar,     bahkan ulama-ulamanya dan fuqaha-fuqahanya dibunuh dan tak seorang pun hidup di antara mereka. Rumah-rumah orang-orang Yahudi tidak lagi dihuni kecuali oleh burung hantu dan binatang buas. Lalu sebahagian orang-orang Yahudi dari Bani Israil  meninggalkan      tempat    itu  dan   tempat    itu  pun  menjadi     tempat    yang tandus     untuk   waktu    yang   lama   sehingga    Allah   s.w.t  mengizinkan      kepada sebahagian cucu dari kaum itu untuk kembali dan mereka pun kembali. Selama     terjadi   peristiwa   yang    berdarah    tersebut,    Uzair  tidur   dan   dialahsatu-satunya yang menjaga Taurat.

0 comments:

Posting Komentar