Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Kamis, 23 April 2026

Pasukan gajah Abrahah

 Pasukan gajah Abrahah

kemudian semakin dekatlah hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sementara itu, pasukan Abrahah mendekati Mekah. Abrahah     adalah    seorang    penguasa    Yaman,     yaitu  pada    saat  Yaman     tunduk kepada   Habasyah   setelah   penguasa   Persia   diusir.  

Pasukan gajah Abrahah


Di   Yaman   ia   membangun suatu     gereja   yang    menunjukkan       bangunan      yang   menakjubkan.       Abrahahmembangunnya dengan niat agar orang-orang Arab berpaling dari Baitul Haram di   Mekah.    Ia  melihat    betapa    orang-   orang    Yaman    tertarik   dengan    rumah tersebut. Dan ketika ia tidak melihat gereja yang dibangunnya memiliki daya tarik   seperti   itu   dan   tidak   mampu   menarik   hati   orang-orang   Arab,   maka   ia berkeinginan   kuat   untuk   menghancurkan   Ka'bah,   sehingga   orang-orang   tidak menuju      ke   Ka'bah   lagi  melainkan     ke   gerejanya.    Demikianlah      akhirnya    ia menyiapkan       pasukan     yang   besar   yang   dipenuhi     dengan    berbagai    senjata, kemudian pasukan itu menuju Ka'bah. Pasukan   Abrahah   terdiri   dari   kelompok   gajah   yang   besar   yang   digunakannya untuk   menghancurkan   Ka'bah.   Gajah-gajah   itu   bagaikan   tank-tank   yang   kita gunakan saat ini. Orang-orang Arab pun mendengar rencana tersebut. Memang orang-orang      Arab   saat   itu  terkenal   sebagai    penyembah      berhala,    meskipun demikian       mereka     sangat     memberikan       penghargaan       dan    penghormatan terhadap   Ka'bah,   kerana   mereka   meyakini   bahawa   mereka   adalah   anak-anak Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as pemelihara Ka'bah. Perjalanan   pasukan   tiba-tiba   dihadang   oleh   seorang   lelaki   yang   mulia   dari penduduk      Yaman     yang   bernama     Dunaher.     Ia  mengajak     kaumnya     dan   dari kalangan orang-orang Arab untuk memerangi Abrahah, sehingga ada beberapa orang yang mengikutinya. Abrahah berhadapan dengan tentera tersebut tetapi pasukan   yang   sedikit   itu   dapat   dengan   mudah dipatahkan   oleh pasukan   kafir yang besar itu. Kemudian Dunaher pun kalah dan menjadi tawanan Abrahah. Pasukan      Abrahah    tersebut    juga   sempat    ditentang    oleh   Nufail   bin   Hubaid al-Aslami,     namun     Abrahah     pun   dapat    mengalahkan      mereka     dan    berhasil menawan Nufail. Kemudian       ketika   Abrahah     melewati     kota   Taif,   menghadaplah       kepadanya beberapa orang tokoh setempat, dan mereka tampak gementar ketakutan dan berkata kepadanya bahawa sesungguhnya 'rumah' yang ditujunya tidak berada di tempat mereka, tetapi berada di Mekah. Hal itu mereka sampaikan dengan maksud   untuk   memalingkannya   dari rumah   berhala   mereka, di   mana   mereka membangun        di   dalamnya     berhala    yang   bernama     Latha    kemudian     mereka mengutus   seseorang   yang   akan   menunjukkan   kepada   Abrahah   letak   Ka'bah. Ketika     Abrahah    berada    di   antara   Taif   dan   Mekah,    ia   mengutus     seorang pemimpin       pasukannya      sehingga    ia   melihat    keadaan     Mekah.     Di  sana    ia merampas banyak harta dari kaum Quraisy dan selain mereka, dan di antara yang dirampasnya adalah dua ratus unta milik Abdul Muthalib bin Hasyim. Saat itu   Abdul   Muthalib    adalah    salah   seorang   pembesar      Quraisy   dan   pemimpin mereka, serta pengawas sumur Zamzam.

Kedatangan       utusan    Abrahah    di   Mekah    telah   menimbulkan       gejolak   pada kabilah-kabilah. Akhirnya kaum Quraisy bergerak, begitu juga kaum Khananah. Kemudian      mereka     mengetahui     bahawa    mereka     tidak  memiliki    kemampuan untuk melawan Abrahah, sehingga mereka membiarkannya, lalu tersebarlah di Jazirah   Arab   berita   tentang   datangnya   pasukan   yang   kuat   yang   sulit   untuk ditandingi.      Dalam     surat   yang     dibawa     oleh    utusannya     itu,   Abrahah menyampaikan   bahawa   ia   tidak   datang   untuk   memerangi   mereka,   namun   ia datang hanya untuk menghancurkan Ka'bah. Jika mereka tidak menentangnya, maka darah mereka tidak akan ditumpahkan. Lalu utusan itu menemui Abdul Muthalib, ia menceritakan tentang keinginan Abrahah. Abdul Muthalib berkata: "Kami tidak ingin memeranginya kerana kami tidak memiliki kekuatan. Ka'bah adalah rumah Allah SWT yang mulia dan suci, dan rumah kekasih-Nya Ibrahim. Jika Ia mencegahnya, maka itu adalah rumah-Nya dan tempat suci-Nya, namun jika Ia membiarkannya, maka demi Allah kami tidak memiliki kekuatan untuk mempertahankannya."          Kemudian     utusan    itu  pergi  bersama     Abdul   Muthalib menuju Abrahah. Abdul Muthalib adalah seseorang yang sangat terpandang dan sangat mulia. Ia memiliki   kewibawaan   dan   kehormatan   yang   mengagumkan.   Ketika   Abrahah melihatnya,       Abrahah     menampakkan        penghormatan       kepadanya.      Abrahah memuliakannya   dan   mendudukannya   di   bawahnya,   ia   tidak   suka   bahawa   ia duduk   bersamanya   di   kursi   kekuasaannya.   Lalu   Abrahah   turun   dari   kerusinya dan   duduk   di   atas   sebuah   permaidani   dan   mendudukkan   Abdul   Muthalib   di sisinya.   Kemudian   ia   berkata   kepada   penerjemahnya:   "Katakan   padanya   apa kebutuhannya?"   Abdul   Muthalib   berkata:   "Kebutuhanku   adalah   agar   Abrahah mengembalikan        dua   ratus   ekor  unta   yang   diambilnya    dariku"   Ketika  Abdul Muthalib     mengatakan      demikian,    wajah    Abrahah    berubah,     lalu  ia  berkata kepada penerjemahnya: "Katakan padanya sungguh aku merasa kagum ketika melihatnya, kemudian aku merasakan kehati-hatian saat berbicara dengannya, apakah engkau berbicara denganku tentang dua ratus ekor unta yang telah aku ambil, lalu engkau membiarkan rumah yang merupakan simbol agamanya dan datuk-datuknya,       yang   aku   datang   untuk    menghancurkannya        dan   dia  tidak menyinggungnya   sama   sekali"  Abdul  Muthalib  menjawab:   "Aku   adalah   pemilik unta, sedangkan pemilik rumah itu adalah Tuhan yang melindunginya." Abrahah berkata:     "Dia   tidak  akan    mampu     melindunginya      dariku."   Abdul    Muthalib menjawab: "Lihat saja nanti!" Selesailah     dialog    antara    Abdul     Muthalib    dan    Abrahah.     Abrahah      pun mengembalikan unta yang telah dirampasnya.

Abdul Muthalib pergi menemuiorang-orang       Quraisy    dan    menceritakan      apa    yang    dialaminya,     dan    ia memerintahkan        mereka    untuk    meninggalkan     Mekah    dan   berlindung    dibalik gua-gua di gunung. Akhirnya kota Mekah dikosongkan oleh pemiliknya. Aminah binti Wahab keluar ke gunung-gunung di dekat kota Mekah kemudian malaikat turun di bumi Jarzirah Arab. Abdul    Muthalib    berdiri   dan   memegangi     pintu   Ka'bah    dan  berdiri   bersama dengan sekelompok orang-orang Quraisy, mereka berdoa kepada Allah SWT dan meminta   perlindungan-Nya,   agar   para   malaikat   memerintahkan   gajah-gajah tidak   melangkahkan   kakinya   sehingga   gajah   itu   pun   tetap   di   tempatnya   dan mentaati perintah para malaikat, kemudian gajah-gajah itu menerima pukulan yang dahsyat namun gajah-gajah itu tetap berdiam di tempatnya, gajah-gajah itu   tampak   gementar   dan   berteriak   tetapi   lagi-lagi   gajah-gajah   itu   menolak untuk bergerak dan tidak bergerak selangkah pun. Abrahah bertanya: "Mengapa pasukan tidak bergerak?" Kemudian dikatakan kepadanya bahawa gajah-gajah menolak      untuk    bergerak.    Abrahah    mengangkat      cemetinya.     Dengan     muka emosi, ia ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan gajah-gajahnya. Matahari     saat  itu  bersinar   dan   ia  duduk   di  khemahnya.      Ketika   ia  keluar, matahari     bersembunyi      di  balik  segerombolan     burung.    Abrahah    mengangkat pandangannya ke arah langit. Mula-mula ia membayangkan bahawa ia melihat sekawanan   awan   yang   hitam.   Kemudian   ia   mengamat-   amati   awan   itu.   Dan ternyata   ia   bukan   awan   biasa.   Itu   adalah   sekelompok  burung   yang   menutupi cahaya matahari dan menyerupai awan yang tebal. Burung ababil, burung yang banyak. Gajah-gajah   semakin   berteriak   dengan   kencang   dan   tampak   ketakutan.   Dan rasa    takut   itu  kini  menghinggapi      seluruh   pasukan.     Abrahah    berteriak    di tengah-tengah   pasukannya   agar   gajah   diusahakan   untuk   maju   secara   paksa. Kemudian       terbukalah     salah    satu   jendela     dari   jendela    al-Jahim,     dan burung-burung itu menghujani pasukan dengan batu dari Sijil, yaitu batu yang sama   yang   pernah   dihujankan   kepada   kaum   Nabi   Luth.   Batu   itu   menyerupai bom-bom atom yang digunakan saat ini. Jika Anda membaca buku-buku kuno, maka Anda akan mengetahui bagaimana peristiwa yang menimpa pasukan Abrahah. Anda akan membayangkan bahawa Anda    berada    di  hadapan     suatu   kekuatan    yang   menghancurkan       yang   tidak diketahui asal muasalnya. Dunia mengenali sebahagian darinya setelah empat belas abad dari peristiwa tersebut. Buku-buku itu mengatakan bahawa pasukan itu dihancurkan dengan penghancuran yang dahsyat.

Para tentera Abrahah kembali dalam keadaan binasa di mana daging- daging dari   tubuh   mereka   berciciran   di   jalan.   Abrahah   pun   mendapatkan   luka   dan mereka keluar dari tempat itu dalam keadaan dagingnya terpisah satu persatu. Abrahah   pun   terbelah   dadanya   dan   mati.   Kemudian   jasad   para   pasukannya tersebar dan berciciran di bumi, seperti tanaman yang dimakan oleh binatang. Setelah     mendekati     setengah     abad,    turunlah    suatu   surah    di  Mekah    yang menceritakan tentang peristiwa itu: "Apakah   kamu   tidak   memperhatikan   bagaimana   Tuhanmu   telah   bertindak terhadap tentera gajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk   menghancurkan   Ka   'bah)   itu   sia-sia?   Dan   Dia   mengirimkan   kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun yang dimakan (ulat)." (QS. al-Fil: 1-5) Pasukan gajah yang ingin memporak-porandakan Mekah dikalahkan. Kemudian mereka      dihancurkan     dan   Tuhan    pemilik   Ka'bah    berhasil   melindungi    rumah suci-Nya.

0 comments:

Posting Komentar