Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Sabtu, 25 April 2026

Keadaan Umat manusia ketika Nabi Muhammad SAW lahir

 Keadaan Umat manusia ketika Nabi Muhammad SAW lahir

Sementara itu, beberapa langkah dari    tempat    Rassul Saw     terdapat    berhala-berhala      yang    memenuhi      Baitul 'Athiq dan sekitar Ka'bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail agar menjadi rumah Allah SWT dan Dia disembah di dalamnya dan manusia merasa tenteram   di   dalamnya.   Di   rumah   yang   kuno   ini   -   yang   dibangun   sebelumnya oleh Adam - dipenuhi patung- patung tuhan yang terbuat dari batu dan kayu. Ini   menunjukkan       betapa    akal   orang-orang     Arab    saat   itu  mengalami      titik terendah. Sementara   itu   nun   jauh   di   sana,   tepatnya   di   Yatsrib   atau   Madinah   dipenuhi oleh orang-orang Yahudi yang mereka datang di sana kerana melarikan diri dari penindasan        orang-orang       Romawi.     

Keadaan Umat manusia ketika Nabi Muhammad SAW lahir


Mereka      tinggal     di    situ   bagaikan serigala-serigala     di  atas   tanah    yang   tersubur    di  mana    mereka     melakukan monopoli   dalam   perdagangan.   Mereka   membangun   kejayaan   mereka   dengan memanfaatkan orang-orang Arab dan kehairanan mereka terhadap diri mereka sendiri. Para cendekiawan Yahudi memperdagangkan segala sesuatu, dimulai dari emas sampai       Taurat.     Mereka      menyembunyikan          kertas-kertas      darinya     dan menampakkan         sebahagiannya;       mereka     mengubah      kertas-kertas     Taurat    itu untuk   memperkaya   diri   mereka.   Pada   saat   orang-orang   Yahudi   menyembah emas   dan   sangat   lihai   melakukan   persekongkolan,   orang-   orang   Arab   justru menyembah        batu   dan   mereka     pandai    berperang.     Mereka    juga   lihai  dalam membuat syair lalu menggantungkannya di atas tirai-tirai Ka'bah. Orang-orang Arab   hidup   di   bawah   naungan   sistem   kesukuan   di   mana   kepala   suku   adalah pemimpin       dan   nilainya   sebanding     dengan    anak    buahnya,    dan   kemampuan mereka      dalam     berperang.     Dan    keutamaan      seseorang     di   lihat  dari   asal muasalnya serta nilainya juga di lihat dari kefanatikannya serta kebanggaannya kepada   nasab   yang   merupakan   kemuliaannya,   juga   kefanatikannya   terhadap berhala   tertentu   yang   merupakan   agamanya.   Jadi,   segala   bentuk   kemuliaan dan   kewibawaan   tidak   terbentuk   kecuali   dalam   ruang   lingkup   yang   sempit dalam kabilah atau kesukuan. Sedangkan       di  tempat    yang   jauh    dari  Mekah,    Romawi      menyerupai      burung rajawali      yang    lemah,     namun      belum     sampai     kehilangan      kekuatannya. Orang-orang Romawi sangat menyanjung kekuatan. Sedangkan di belahan timur dari utara negeri Arab, orang-orang Persia menyembah api dan air. Api tetap menyala di tempat peribadatan mereka di mana manusia rukuk untuknya. Dan di sana terdapat danau Sawah yang dianggap suci oleh mereka.

Sementara      itu,  Kisra,   raja  kaum    Persia   duduk   di  atas   singgahsananya      dan memberikan keputusan terhadap manusia. Keputusan Kisra selalu didengar dan dilaksanakan.       Tidak    ada   seorang     pun    yang    berani    menentangnya        dan menolaknya.   Orang-orang   Persia   berhasil   mengalahkan   Romawi   dan   Yunani, sehingga     mereka    menjadi     kekuatan    yang   dahsyat    di  muka    bumi.   Meskipun mereka   memiliki   kekuatan   yang   sangat   luar   biasa,   namun   penyembahan   api jelas-jelas    menunjukkan       betapa     bodohnya     mereka     dan    betapa    kekuatan mereka   diliputi   oleh   kebodohan   sehingga   akal   mereka   tercabut   dan   mereka terhalangi untuk  mencapai   kebenaran. Alhasil, kegelapan   semakin  meningkat di   setiap   penjuru   bumi   dan   kehidupan   berubah   menjadi   hutan   yang   lebat   di mana di dalamnya seorang yang kuat akan menyingkirkan seorang yang lemah dan di dalamnya yang menang adalah kebatilan. Di tengah-tengah suasana yang demikian kelam, lahirlah seorang anak di tenda Mekah.   Ketika   anak   tersebut   lahir,   maka   padamlah   api   yang   disembah   oleh kaum Persia dan keringlah danau Sawah yang disucikan oleh manusia, bahkan robohlah   empat   belas   loteng   dari   istana   Kisra.   Dan   syaitan   merasa   bahawa penderitaan yang besar telah merobek-robek hatinya. Ini semua sebagai simbol dimulainya       kehancuran      kejahatan     atau    keburukan      di  muka     bumi     dan terbebasnya   akal   manusia   dari   penyembahan   terhadap   sesama   manusia   atau terhadap      hal-hal    yang    bersifat    khurafat.    Manusia     diajak    hanya    untuk menyembah         kepada    Allah   SWT.

0 comments:

Posting Komentar