Alam Kubur yang Gelap
Hal ini ditunjukkan oleh hadits shahih :
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ
أَنَّ امْرَأَةً سَوْدَاءَ كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ – أَوْ شَابًّا – فَفَقَدَهَا
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَ عَنْهَا – أَوْ عَنْهُ
– فَقَالُوا مَاتَ. قَالَ « أَفَلاَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِى ». قَالَ
فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا – أَوْ أَمْرَهُ – فَقَالَ « دُلُّونِى عَلَى
قَبْرِهِ ». فَدَلُّوهُ فَصَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَ « إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ
مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَوِّرُهَا
لَهُمْ بِصَلاَتِى عَلَيْهِمْ ».
“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa seorang
wanita hitam -atau seorang pemuda – biasa menyapu masjid Nabawi pada masa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam tidak mendapatinya sehingga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
menanyakannya. Para sahabat menjawab, ‘Dia telah meninggal dunia’. Beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Kenapa kalian tidak memberitahukan
kepadaku?’ Abu Hurairah berkata, ‘Seolah-olah mereka meremehkan urusannya’.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tunjukkan kuburnya kepadaku’.
Lalu mereka menunjukkannya, beliau pun kemudian menyalati wanita itu, lalu
bersabda, “Sesungguhnya kuburan-kuburan ini dipenuhi kegelapan bagi para
penghuninya, dan sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala menyinarinya bagi
mereka dengan shalatku terhadap mereka.” (HR. Al-Bukhari & Muslim)
Kegelapan di alam kubur menggambarkan kondisi
gelap yang dialami manusia setelah meninggal dunia. Kegelapan ini dapat
diterangi dengan amalan-amalan baik, seperti shalat, sedekah, dan zikir
Ketika menafsirkan QS. Al-Hadid ayat 12 dan
13, Imam Ibnu Katsir mengutip riwayat dari Ibnu Abi Hatim tentang nasihat yang
pernah disampaikan oleh sahabat Abu Umamah al-Bahili ra. sebagai berikut:
أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّكُمْ
قَدْ أَصْبَحْتُمْ وَأَمْسَيْتُمْ فِي مَنْزِلٍ تَقْتَسِمُونَ فِيهِ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ،
وَتُوشِكُونَ أَنْ تَظْعَنُوا مِنْهُ إِلَى مَنْزِلٍ آخَرَ، وَهُوَ هَذَا-يُشِيرُ إِلَى
الْقَبْرِ-بَيْتُ الْوَحْدَةِ، وَبَيْتُ الظُّلْمَةِ، وَبَيْتُ الدُّودِ، وَبَيْتُ
الضِّيقِ، إِلَّا مَا وَسَّعَ اللَّهُ، تَنْتَقِلُونَ مِنْهُ إِلَى مُوَاطِنِ يَوْمِ
الْقِيَامَةِ، … ثُمَّ تَنْتَقِلُونَ مِنْهُ إِلَى مَنْزِلٍ آخَرَ فَتَغْشَى النَّاسَ
ظُلْمَةٌ شَدِيدَةٌ، ثُمَّ يُقَسَّمُ النُّورُ فَيُعْطَى الْمُؤْمِنُ نُورًا وَيُتْرَكُ
الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُ فَلَا يُعْطَيَانِ شَيْئًا
“Hai manusia, sesungguhnya kamu di pagi hari
dan petang hari berada di suatu tempat yang di dalamnya kamu berbagi amal
kebaikan dan keburukan. Dan sudah dekat masanya bagi kalian akan pergi meninggalkannya
menuju ke suatu tempat lain, yaitu alam kubur ini —seraya berisyarat ke arah
kubur—yaitu rumah kesendirian, rumah kegelapan, dan rumah ulat serta rumah
kesempitan terkecuali apa yang diluaskan oleh Allah. Kemudian kamu akan
berpindah lagi darinya menuju ke tempat-tempat hari kiamat. … Kemudian kamu
berpindah lagi darinya menuju ke tempat lain, dan semua manusia diselimuti oleh
kegelapan yang sangat pekat; kemudian cahaya dibagikan. Maka orang mukmin
mendapat cahayanya, sedangkan orang kafir dan orang munafik tidak diberi sama
sekali dari cahaya itu.” (Ibnu Katsir, 8/16)
Sahabat Abu Umamah al-Bahili menjelaskan
bahwa akan ada dua tempat yang sangat gelap yang akan kita lalui, *pertama* :
alam kubur dan *kedua* : suatu tempat yang akan dilewati sebelum _shirat_
(jembatan yang dipasang diatas neraka)).
*Untuk yang pertama, yaitu kegelapan di alam
kubur* . Di alam kubur semua manusia akan diselimuti oleh kegelapan, sehigga
sangat dibutuhkan cahaya. Dan tidak ada cahaya di alam kubur kecuali cahaya
dari Allah swt. oleh karena itu Rasulullah saw mengajarkan kepada kita sebuah
do`a memohon kepada Allah supaya diberi cahaya di alam kubur :
اجْعَلْ لِي نُورًا فِي قَبْرِي..
Jadikanlah cahaya di kuburku,.. (Musnad
Al-Bazzar, 5234)
وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ
Berilah cahaya di dalamnya (HR. Muslim: 920, Dari Ummu
Salamah ra.
Ketika seseorang diberi cahaya di alam
kuburnya, maka dia berada dalam ni`mat kubur dan keselamatan dari azab kubur.
Sebaliknya, ketika dia tidak diberi cahaya, itulah diantara bentuk siksaan,
yaitu kegelapan dan kesempitan di alam kubur. Na`uudzu billah
Maka ikutilah cahaya Allah (Al-Qur`an dan
As-Sunnah) di dunia, pasti cahaya itu akan diberikan di akhirat. Siapa yang
tidak mengikuti cahaya Allah (al-Qur`an dan As-Sunnah) dalam kehidupan dunia
ini, maka dia tidak akan mendapat cahaya di akhirat kelak.
أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ
وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ
لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Artinya: Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia
Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya
itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang
yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar
dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa
yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-An`am: 122)
Alam kubur juga merupakan _baitul wahdah_ (rumah
kesendirian), tidak ada yang sudi menemani kita dialam kubur padahal kita
sangat membutuhkan teman. anak, istri, saudara, teman dan semua orang yang
pernah membersamai kita di dunia tidak akan menemani kita di alam kubur. Hanya
ada satu teman yang rela dan sudi menemani kita di alam kubur, yaitu amal
shaleh kita sendiri. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut:
قَالَ: ” وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ،
حَسَنُ الثِّيَابِ، طَيِّبُ الرِّيحِ، … فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ،
…Beliau saw bersabda: Kemudian setelah itu dia akan
didatangi oleh seorang laki laki yang bagus wajahnya, indah pakaiannya dan
harum baunya…kemudian dia berkata : aku adalah amal shalehmu. (HR. Ahmad:
18534)
kubur itu hanya bisa terang dengan amalan shalih.”

0 comments:
Posting Komentar