Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Kamis, 16 April 2026

Sam bin Nuh

Menurut sejarah Islam pada masa kerasulan Nabi Isa, dikatakan bahwa Sem pernah dibangkitkan kembali oleh Isa, ketika ada permintaan dari Bani Israel.Silsilah lengkapnya adalah Sem bin Nuh bin Lamekh bin Metusalah bin Henokh bin Yared bin Mahalaleel bin Kenan bin Enos bin Set bin Adam. Anak-anak Sem adalah Elam, Asyur, Aram, Arpakhsad dan Lud, selain sejumlah anak perempuan. Abraham adalah masih keturunan Sem, oleh penganut ajaran samawi dianggap sebagai leluhur dari bangsa Ibrani dan Arab. Menurut Damrah bin Rabiah dari Ibnu Ata dari ayahnya bahwa Sem menurunkan keturunan yang berwajah tampan dan berambut indah.Sem adalah leluhur beberapa bangsa di Timur Tengah; ia adalah nenek moyang Elam, Asyur, Arpakhshad atau Arpakhaxad (menurut Yosefus, Kasdim, yang kemudian menurunkan bangsa Ibrani dan Arab), Lud (Lidia) dan Aram (Suriah).

sam bin nuh
Semit
Istilah seperti "Semit" dan "Hamit" kini tidak banyak digunakan, dan kadang-kadang bahkan dianggap ofensif, karena mengandung konotasi "rasial". Bentuk-bentuk adjektiva "Semit" dan "Hamit" lebih lazim, meskipun istilah 'Hamit' yang kabur telah ditinggalkan di kalangan akademik arus utama pada 1960-an. Istilah Semit masih lazim digunakan untuk Bahasa-bahasa Semit, sebagai sub-kelompok dari bahasa Afro-Asia, yang merujuk kepada warisan linguistik yang sama dari bahasa Arab, Aram, Akkadia, Ethiopia, Ibrani dan Fenisia.

Kejadian 11:10 mencatat bahwa Sem berumur 100 tahun ketika Arpakhsad dilahirkan, dua tahun setelah air bah, sehingga ketika banjir melanda usianya 98 tahun. Setelah itu, ia hidup 500 tahun lagi, sehingga umurnya pada saat kematiannya adalah 600 tahun. Sem hidup semasa dengan ayahnya, Nuh. Dia hidup semasa dengan Ishak sampai Ishak berumur 110 tahun dan hidup semasa dengan Yakub sampai Yakub berumur 50 tahun. Dia hidup semasa dengan 15 generasi bapa leluhur dari Metusalah (kedelapan) sampai dengan Yakub (ke-20)

Garis keturunan

Bangsa Arab menunjukkan kebanggaan pada leluhur. Wujud perasaan itu, misalnya, diungkapkan melalui tradisi menghafal nasab bapak-bapak mereka. Hal itu bahkan masih bisa dijumpai hingga saat ini.

Chalil menuturkan, putra Nabi Nuh AS—Sam—memiliki seorang anak yang bernaa Iram. Darinya, lahirlah banyak keturunan yang akhirnya berkelompok menjadi sembilan suku. Mereka adalah Ad, Tsamud, Amim, Amil, Thasam, Jadis, Imliq, Jurhum Ula, dan Wabaar.

Beberapa suku di antaranya menjadi masyhur karena berkaitan dengan riwayat sejumlah nabi. Misalnya, kaum Ad dan Tsamud. Kepada mereka masing-masing, Allah mengutus Nabi Hud dan Nabi Shalih. Alquran surah al-Haqqah ayat 4-6 menuturkan nasib keduanya yang sama dimusnahkan oleh Allah. Sebab, kedua kaum itu telah mendustakan dan bahkan memusuhi utusan-Nya.
Chalil mengatakan, kira-kira sembilan generasi usai Iram bin Sam lahirlah al-Muta’aribah. Tokoh bangsa Arab itu adalah keturunan Qahthan bin Nabi Hud. Ya’rib bin Qahthan menguasai Arab selatan atau Yaman. Adapun Jurhum bin Qahthan mengendalikan Hijaz. Syihr dikuasai ‘Aad bin Qahthan, sedangkan Arab Tenggara dikuasai Oman bin Qahthan—menjadi cikal bakal negeri Oman.

Ya’rib memiliki cicit yang bernama Abdu Syamsin. Gelarnya adalah Saba karena kemahirannya dalam memenangkan banyak pertempuran. Keturunannya kemudian mendirikan sebuah daulah di Yaman, yakni Kerajaan Saba. Alquran mengabadikan nama dan kisah negeri tersebut dalam surah ke-34, Saba.

Dari seluruh Jazirah Arab, bagian selatanlah yang paling subur. Ma’rib menjadi kota terbesar di Yaman dan masyhur akan bendungannya yang canggih pada masa itu.Kemakmuran kerajaan ini disebutkan dalam surah Saba ayat ke-15. Di sebelah barat Bendungan Ma’rib, terdapat deretan pepohonan yang menghasilkan bermacam buah-buahan. Di sisi timurnya, terbentang kebun sayur-mayur beraneka jenis. Kapasitas bendungan itu juga mengagumkan. Air yang ditampungnya bisa mencukupi kebutuhan masyarakat selama beberapa musim kemarau.

Namun, penduduk Saba kian lama semakin melupakan agama tauhid. Azab pun ditimpakan kepada mereka. Bendungan Ma’rib jebol. Banjir besar seketika melanda nyaris seluruh kawasan Yaman, termasuk lahan-lahan pertanian yang selama ini mereka banggakan. Di kemudian hari, malapetaka ini disebut sebagai musibah Banjir Arim.Sebagian penduduk Yaman yang selamat dari bencana tersebut pindah ke utara. Ada yang hijrah hingga ke Syam, Irak, serta negeri-negeri lain yang berdekatan. Dan, ada pula yang berhenti di kawasan Hijaz.Mereka ikut merintis terbentuknya masyarakat baru di Bakkah. Hal itu dilakukannya bersama-sama dengan keluarga Nabi Ibrahim AS, khususnya Siti Hajar dan Nabi Ismail AS.


0 comments:

Posting Komentar