Herodes yang Agung atau Hordos (Hebrew: הוֹרְדוֹס, Hordos, Greek: Ἡρῴδης, Hērōidēs) juga dikenal sebagai Herodes I, adalah seorang raja boneka Romawi yang berkuasa di Yudaea (sekitar 74 SM - sekitar 5, 4 atau 1 SM di Yerusalem). Rincian biografinya yang cukup jelas diperoleh dari tulisan sejarawan Yahudi pada abad pertama Masehi, Yosefus. Bagi banyak orang Kristen, Herodes paling dikenal dari Injil Matius yang melukiskan dalam pasal 2 serangkaian kisah mengenai perbuatannya yang berakhir dengan pembunuhan anak-anak di Betlehem.
Herodes mengidentifikasikan dirinya sebagai Yahudi, meskipun menurut hukum Torah ia bukan Yahudi. Karena ia adalah anak kedua dari Antipatros orang Edom, pendiri Dinasti Herodes, dan istrinya Sipros, seorang putri dari Petra di Nabatea (kini bagian dari Yordania). Keluarga itu berhubungan akrab dengan tokoh-tokoh pembesar di Roma, seperti misalnya Pompeyus, Cassius, dan pada 47 SM ayahnya diangkat sebagai Prokurator atas Yudea, yang kemudian menunjuk anaknya menjadi gubernur Galilea pada usia 25 tahun.Agama Hordos adalah Paganisme dan Yudaisme
Pada waktu itu datanglah beberapa orang Farisi dan berkata kepada Yesus, “Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau. Jawab Yesus kepada mereka, “Pergilah dan katakanlah kepada si rubah itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai. Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh di luar Yerusalem. Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Sesungguhnya rumahmu ini akan ditinggalkan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kamu tidak akan melihat Aku lagi sampai pada saat kamu berkata: Terpujilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!” (Luk 13:31-35)
Yesus mengirim pesan kembali kepada Herodes bahwa Dia akan melanjutkan pekerjaan-Nya melawan kuasa kejahatan dan menyembuhkan segala sakit-penyakit sampai saat misi-Nya diselesaikan. Yesus merasa pasti bahwa Dia akan menyelesaikan misi-Nya di Yerusalem, bukan di dalam wilayah kekuasaan Herodes Antipas. Yerusalem dilihat sebagai “ringkasan” umat Israel, dan Yesus mengingatkan para pendengar-Nya tentang bagaimana Yerusalem memperlakukan para nabi di masa lampau: Yerusalem telah memainkan peran sebagai pembunuh, jadi layaklah bahwa kota ini pun akan memainkan peran yang sama atas diri nabi terbesar sepanjang masa, Yesus. Herodes Antipas tidak dapat memasuki drama ini sekarang dan mengubah hubungan fatal yang ada antara Yerusalem dan Yesus, antara pembunuh dan korbannya. Dan dalam hal ini, sang korban sedang melakukan perjalanan-Nya ke tempat sang pembunuh.Dalam ratapan-Nya atas Yerusalem yang menyayat hati mereka yang mendengar-Nya, Yesus berbicara dalam bahasa Hikmat-Kebijaksanaan dan mengingat upaya-upaya yang dilakukan berulang kali

0 comments:
Posting Komentar