Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Semoga kebahagiaan dan kedamaian selalu menyertai kita semua Idul Fitri adalah waktu untuk kembali, memaafkan, dan memulai lagi. Selamat Hari Raya Idul Fitri!"
Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Semoga kebahagiaan dan kedamaian selalu menyertai kita semua Idul Fitri adalah waktu untuk kembali, memaafkan, dan memulai lagi. Selamat Hari Raya Idul Fitri!"
Sebagaimana Khidir diberi ilmu dari sisi Allah SWT, maka Yahya diberi rasa cinta dari sisi Allah SWT. Al-Hanan ialah ilmu yang luas yang terkandung di dalamnya sesuatu kecintaan yang dalam terhadap makhluk dan alam. Hanan ialah salah satu dari tingkat cinta yang bersumber dari ilmu.
Yahya adalah seorang Nabi yang menjadi cermin dari ibadah, zuhud, dan cinta. Nabi Yahya mengungkapkan cinta kepada semua makhluk. Ia dicintai oleh manusia, burung-burung, binatang buas, bahkan gurun dan gunung. Darah Nabi Yahya tertumpah ketika beliau berusaha mempertahankan kebenaran yang disampaikannya di istana raja yang lalim. Peristiwa tragis itu berkaitan dengan seorang penari pelacur. Para ulama banyak menyebutkan keutamaan Yahya. Yahya hidup sezaman dengan Nabi Isa dan termasuk kerabat dekatnya dari sisi ibu (anak bibinya).
Yahya bukanlah ejaan bahasa Arab dari bahasa aslinya. Namanya dalam bahasa Ibrani adalah Yohanan (יוֹחָנָן, Yôḥānān) yang berarti tuhan kasih sayang dan dieja dalam bahasa Arab sebagai Yuhana (يُوحَنَّا, Yūḥanna). Dalam Qur'an surat Maryam ayat 13,
وَحَنَانًۭا مِّن لَّدُنَّا وَزَكَوٰةًۭ ۖ وَكَانَ تَقِيًّۭا ١٣
dan (Kami jadikan) rasa kasih sayang (kepada sesama) dari Kami dan bersih (dari dosa). Dan dia adalah seorang yang bertakwa,, Qur'an Maryam:13
Dalam ayat tersebut terdapat kata yang sangat jarang digunakan bahkan satu-satunya dalam Al-Qur'an yakni kata hanan (حنان) dan memiliki arti kasih sayang, dijelaskan bahwa Tuhan menganugerahkan rasa kasih sayang darinya untuk Yahya, sehingga namanya dalam bahasa Ibrani disebut Yehohanan/Yohanan, berasal dari kata Yeho
YahyaDia adalah putra Zakariyya. Yahya/Yohanes/John/Yuhana dipandang sebagai nabi dan dihormati dalam Ajaran Agama Islam, Baha'i, dan Mandaeisme, Yahya/Yohanes/John/Yuhana hidup sekitar abad pertama Masehi di Palestina
Dalam bahasa Arab, "Hanan" berarti kasih sayang, suka, kebaikan, dan kelembutan hati
Dalam bahasa Ibrani, "Hanan" berarti "penuh kasih", "karunia yang penuh kasih", atau "Allah yang berbelas kasihan"
Dalam Al-Qur'an, "Hanan" digunakan untuk menggambarkan sifat Allah yang penuh kasih sayang dan cinta terhadap hamba-hamba-Nya
Pertempuran Plataea antara athena dan persia :
Penjarahan kedua Athena oleh Persia membuat Sparta tidak punya pilihan selain menghormati aliansi mereka dengan orang Athena. Tampaknya bijaksana untuk mencoba mengalahkan Persia sebelum Persia datang ke selatan ke tanah air Sparta. Jadi mereka berbaris ke utara dan bergabung dengan orang Athena dan sekutu Yunani lainnya.
Yang terjadi selanjutnya adalah Pertempuran Plataea. Dan meskipun melakukan kesalahan taktis yang serius, hoplites Yunani terbukti terlalu kuat bagi Persia. Pertempuran Plataea menghancurkan pasukan Persia, membunuh Mardonius dalam prosesnya, dan mengakhiri invasi untuk selamanya.
Pembangunan Kembali Athena,Pada musim gugur tahun 479 Sebelum Masehi, orang Athena segera mulai membangun kembali kota mereka yang hancur. Themistocles bertanggung jawab atas upaya rekonstruksi. Prioritas pembangunan diberikan pada struktur pertahanan, terutama Tembok Themistocles, untuk mencegah invasi di masa depan. Meskipun Persia dikalahkan, Athena masih memiliki musuh potensial yaitu Sparta.Puing-puing digunakan untuk membangun kembali rumah dan kuil. Sementara Parthenon harus menunggu 30 tahun untuk dibangun kembali.
Penghancuran Athena oleh Persia (dua kali) merupakan pukulan besar bagi Yunani. Namun hal itu justru menyatukan mereka melawan pasukan Mardonius. Penghancuran itu adalah titik terendah perang, namun juga menjadi katalis bagi Yunani untuk menghancurkan para penyerbu sepenuhnya.
Satu setengah abad kemudian, penaklukan Alexander Agung akan mendatangkan pembalasan bagi bangsa Persia. Menurut Plutarch dan Diodorus, Istana Persepolis dihancurkan sebagai tindakan balas dendam atas penghancuran Kuil Athena.
Serangan Mardonius Menyadari posisi mereka yang genting, Xerxes memimpin sebagian besar armada Persia kembali ke Ionia. Jenderalnya, Mardonius, menawarkan diri untuk tinggal di Yunani dan menyelesaikan penaklukan. Bersamanya ada pasukan yang terdiri dari antara 70.000 dan 120.000 tentara (menurut perkiraan modern). Pasukan terbaik, seperti Immortals, Medes, Sacae, Bactria, dan India, semuanya tetap tinggal.
Sementara itu, orang Yunani dengan tergesa-gesa, tetapi dengan tekun, telah
membangun tembok pertahanan di seberang Isthmus of Corinth yang memisahkan
Yunani utara dari Peloponnese. Mardonius tahu bahwa untuk mengalahkan orang
Yunani, ia harus memancing Sparta keluar dari balik tembok. Orang Athena juga
tahu bahwa mereka tidak dapat mengalahkan Persia tanpa Sparta.
Mardonius memutuskan untuk menawarkan perdamaian kepada orang Athena,
bersama dengan janji pemerintahan sendiri dan perluasan wilayah. Penawarannya
itu merupakan upaya untuk memanfaatkan keretakan antara orang Athena dan
Sparta. Orang Athena berpura-pura menerima tawaran itu. Mereka memastikan
delegasi Sparta hadir dalam pembicaraan sebelum menolak tawaran tersebut.
Marah, Mardonius kembali ke pasukannya. Mengetahui apa yang akan terjadi,
orang Athena dengan cepat mengevakuasi kota mereka lagi. Kali ini, Persia hanya
meninggalkan sedikit yang tersisa. Athena benar-benar rata dengan tanah.
Wafatnya Nabi Yahya AS
Anak perempuan wanita itu yang suka menari telah melihat Yahya saat ia berbicara dengan raja. Anak perempuan itu sangat tertarik akan ketampanan Yahya dan keagungan keperibadiannya.
Ringkasnya, wanita yang ahli menari itu pun merasa jatuh cinta kepada Yahya. Ia pergi menemui Yahya di penjaranya dan ia melihat Yahya dalam keadaan duduk solat dan menangis. Wanita itu terus mengawasi Yahya saat beliau solat sampai selesai. Lalu ia meletakkan dirinya di bawah kaki Yahya dan memintanya agar mencintainya sebagaimana ia mencintai Yahya. Yahya menjawab bahawa di dalam hatinya tidak ada cinta lain selain cinta kepada Allah SWT. Wanita itu pun bangkit dari tempatnya dalam keadaan putus asa. Ia meninggalkan Yahya dalam keadaan hatinya dipenuhi kebencian padanya. Ia kembali ke istana raja.
Waktu Isyak telah berakhir. Raja mulai meminum minuman kesukaannya, yaitu khamr. Wanita itu memberikan minum kepada raja. Makin banyaknya raja minum, sampai-sampai raja merasa bahawa kepalanya seperti belon besar dan ia sebentar lagi akan terbang. Di sanalah wanita penari itu segera memakai pakaian tarian dan kembali kepada raja. Raja melihatnya dan ia merasa kepalanya bertambah besar dan wanita itu mulai menari. Lalu dipukullah rebana dan berbagai alat muzik sehingga wanita itu tampak menari dan menikmati tariannya. Pada tarian ke tujuh ia berhenti lalu membuka wajahnya sambil berkata kepada raja: "Wahai tuanku, aku ingin bertanya sedikit kepadamu." Raja yang sedang mabuk itu berkata: "Segala sesuatu yang engkau inginkan akan kuberikan kepadamu sekarang juga." Wanita itu berkata: "Aku menginginkan kepala Yahya bin Zakaria."
Mendengar perkataan itu, raja segera sadar dari mabuknya lalu ia merasakan ketakutan. Ia berkata kepadanya: "Mintalah kepadaku yang lain saja." Wanita itu berkata: "Aku menginginkan darah Yahya bin Zakaria." Wanita ini adalah simbol keburukan. Raja berkata sambil minum minuman keras yang keempat kalinya setelah empat puluh kali: "Bunuhlah Yahya!" Akhirnya, pemimpin pasukan raja mengeluarkan perintah kepada anak buahnya untuk menghabisi Yahya. Kemudian Yahya menemui ajalnya secara tragis dan meneguk madu syahadah.
Injil Mata pada pasal yang keempat belas menyebutkan suatu riwayat sebagai berikut:
"Hirdus telah menangkap Yuhana lalu ia memasukkan ke dalam penjara kerana Hirduya isteri dari saudaranya. Sebab Yuhana berkata kepadanya, engkau tidak boleh mengambilnya sebagai isterimu. Ia ingin membunuh Yuhana tetapi ia khuatir terhadap reaksi masyarakat kerana mereka menganggapnya sebagai seorang Nabi. Ketika diadakan acara kelahiran Hirdus salah seorang perempuan anak dari Hirduya menari di tengah-tengah para hadirin sehingga Hirdus merasa kagum, kerananya kemudian ia bersumpah bahawa apa pun yang diminta penari itu akan diturutinya. Wanita itu berkata: "Berikanlah kepadaku kepala Yuhana." Sebetulnya raja itu keberatan tetapi ia sudah terlanjur bersumpah dan disaksikan orang-orang di sekitarnya, maka ia pun memerintahkan agar permintaan wanita itu dituruti. Kemudian kepala Yuhana dikirim dari penjara, dan diberikan kepada gadis itu, lalu gadis itu membawanya kepada ibunya."
Segera setelah penjarahan Athena oleh Persia, armada Yunani di bawah komando Themistocles memancing armada Persia ke Selat Salamis. Orang Yunani memahami bahwa jika mereka kalah di sini, maka seluruh Yunani akan terbuka untuk invasi. Mereka bertahan dan melawan jumlah yang lebih besar, memberikan luka yang parah pada Persia. Pasukan Yunani menenggelamkan ratusan kapal dengan kerugian hanya 40 kapal mereka sendiri.
Begitu kacau pertempuran itu sehingga orang Yunani bahkan tidak yakin akan kemenangan mereka sampai asap menghilang keesokan paginya. Namun akhirnya, mereka melihat Persia mundur. Xerxes, yang telah mendirikan takhtanya di Gunung Aigaleo yang menghadap selat, berada dalam suasana hati yang buruk. Konon, beberapa orang kehilangan kepala mereka.
Setelah pertempuran, sejumlah kecil pengungsi Athena kembali ke kota mereka dan mendapati rumah-rumah mereka terbakar. Kehancuran di Athena adalah pemandangan yang menyedihkan.
Pada bulan September 480 Sebelum Masehi, armada Persia tiba di Teluk Phaleron. Sejumlah kecil orang Yunani yang membentengi diri di Akropolis dengan cepat dikalahkan, dan Xerxes memerintahkan kota itu untuk dibakar. Akropolis hancur, termasuk Kuil Athena Kuno dan Parthenon Tua.
Herodotus menulis, “Orang-orang Persia yang datang lebih dulu pergi ke gerbang, yang mereka buka, dan membantai penduduk. Dan setelah mereka mengalahkan semua orang Athena, mereka menjarah kuil dan membakar seluruh akropolis.”
Para pendeta wanita dan bendahara akan tinggal untuk menjaga harta karun di Akropolis. Harta karun ini akan disembunyikan, seperti barang-barang berharga milik orang lain yang akan pergi. Banyak barang dikubur dengan harapan barang-barang itu akan ada di sana ketika pemiliknya kembali.
Untuk memperlambat laju pasukan Persia dan untuk mengulur waktu, Yunani
mengirimkan pasukan kecil untuk menghambat Persia di titik sempit Thermopylae.
Ribuan orang Yunani yang dipimpin oleh Raja Leonidas dan 300 Spartan
mempertahankan celah tersebut selama 2 hari. Mereka memanfaatkan celah sempit
itu untuk mengurangi keunggulan jumlah pasukan Persia.
Secara bersamaan, armada Yunani kuno menghalangi armada Persia yang sangat
besar di Selat Artemisium antara Euboea dan Thessaly. Armada Yunani terdiri
dari yang berjumlah kurang dari 300 kapal. Aksi angkatan laut tersebut
melindungi sayap utara pasukan Yunani di Thermopylae.
Namun, setelah pasukan Yunani di darat dikalahkan, angkatan laut Yunani
mundur ke Athena untuk menyelesaikan evakuasi. “Menurut sejarawan Yunani
Herodotus, evakuasi itu dimulai beberapa hari setelah Pertempuran Artemisium,”
Beyer menambahkan.
Setelah kedua pertempuran tersebut, seluruh Boeotia dan Attica terbuka bagi
Persia. Dua kota yang telah melawan invasi, Thespiae dan Plataea, dijarah dan
dihancurkan. Sejarawan modern Robert Garland menulis bahwa pemandangan di
Athena pasti kacau. Pengungsi dari daerah lain di Attika akan berdatangan ke
Athena dengan harapan dievakuasi juga. Pemandangan di pelabuhan pasti penuh
keputusasaan. Orang-orang lelah, lapar, dan haus.
Satu abad setelah peristiwa itu, Plutarch membayangkan air mata saat
keluarga dipisahkan, dan lolongan anjing peliharaan yang ditinggalkan. Kota
Troezen, khususnya, melakukan upaya besar untuk menampung masuknya orang dalam
jumlah besar. Para pengungsi Athena diberi tunjangan harian kecil dengan biaya
publik. Sementara anak-anak diizinkan memetik buah dari pohon di dalam dan
sekitar kota. Pendidikan juga direncanakan dan diberikan kepada anak-anak
Athena.
Pada April 480 SM, pasukan Persia yang sangat besar berjumlah ratusan ribu orang menyeberangi Hellespont di atas dua jembatan ponton raksasa. Tujuan mereka adalah penaklukan Yunani kuno.
10 tahun sebelumnya, Persia telah mencoba melakukannya dan gagal total, dikalahkan telak dalam Pertempuran Marathon. Kali ini, raja Persia, Xerxes, memastikan ia memiliki jumlah pasukan yang cukup. Ia berencana untuk menuntaskan apa yang gagal dilakukan ayahnya, Raja Darius, 10 tahun sebelumnya.
Namun, orang Yunani kuno tidak berpuas diri. Mereka tahu Persia akan kembali, dan mereka telah mempersiapkannya. Dibantu oleh peningkatan produksi di tambang perak Laurium, Athena menggunakan pendapatan tersebut untuk membangun dan melengkapi armada 200 kapal. Athena pun memiliki dominasi angkatan laut atas negara-kota Yunani lainnya selain mampu membantu melawan ukuran armada Persia yang sangat besar.
Pada saat Persia menyeberang ke Yunani kuno, evakuasi Athena telah dimulai. Karena meramalkan apa yang akan terjadi, orang Yunani kuno berkonsultasi dengan Oracle Delphi. Oracle Delphi menyarankan mereka untuk meninggalkan kota. Pada kunjungan kedua, dia memberi tahu mereka untuk mengandalkan “tembok kayu” mereka. Oleh politisi dan jenderal, Themistocles, tembok kayu diartikan sebagai armada.
Sejak musim dingin tahun 481 SM, evakuasi telah direncanakan. “Evakuasi ini akan membutuhkan relokasi sekitar 100.000 orang, dan merupakan usaha besar,” tulis Greg Beyer di laman The Collector.
Mayoritas penduduk akan dipindahkan ke kota Troezen di Peloponnese, 80 km jauhnya. Orang tua dan barang-barang yang masih bisa diselamatkan akan dikirim ke pulau Salamis di lepas pantai Attica di sebelah barat Athena.
dengan memanfaatkan kepercayaan masyarakat mesir terhadap kucing, Cambyses II memerintahkan pasukannya menempatkan kucing dan hewan-hewan suci lain di garis depan. Beberapa catatan bahkan menyebutkan gambar kucing dilukis di perisai prajurit Persia.
Pertempuran meletus di dekat kota Pelusium, gerbang timur Delta Nil. Di sanalah pasukan Persia menunjukkan strategi tak biasa, menjadikan kucing sebagai senjata psikologis.
Bagi orang Mesir, pemandangan itu mengguncang batin mereka. Mereka takut melukai hewan-hewan suci yang diyakini sebagai titisan dewa. Ketakutan dan kebingungan itu cukup bagi Persia untuk memecah pertahanan Mesir.Dalam waktu singkat, barisan Mesir runtuh, dan kemenangan mutlak berpihak pada Cambyses. Mesir pun jatuh ke tangan Persia, menandai berakhirnya Dinasti ke-26 dan lahirnya masa kekuasaan asing yang dikenal sebagai Dinasti ke-27.
Namun, apakah kisah penggunaan kucing ini benar-benar terjadi? Sejumlah sejarawan, termasuk Polyaenus dari Yunani, mencatat peristiwa itu, meski detailnya masih diperdebatkan.Ada yang meyakini kisah ini simbolis, mewakili kecerdikan Persia dalam membaca kelemahan budaya musuhnya. Ada pula yang menilai bahwa penggunaan hewan hidup sebagai “tameng” memang terjadi dan berperan besar dalam kemenangan mereka.
Apa pun kenyataannya, Pertempuran Pelusium menjadi contoh langka tentang bagaimana faktor psikologis dan pemahaman budaya bisa mengubah jalannya sejarah.Kemenangan Persia bukan hanya hasil keunggulan militer, tetapi juga bukti bahwa peperangan sejatinya juga berlangsung di medan kepercayaan dan rasa takut.
Kekuasaan Persia di Mesir berlangsung lebih dari satu abad. Meskipun menjadi penjajah, mereka tetap menghormati budaya lokal dengan mengadopsi gelar firaun dan memadukan dewa-dewa Mesir ke dalam sistem kepercayaan mereka.
Pertempuran Pelusium pada 525 Sebelum Masehi menjadi saksi strategi perang yang tak biasa. Saat itu, Kekaisaran Persia di bawah Cambyses II berhadapan dengan Mesir yang dipimpin Firaun Psamtik III.
Namun, yang membuat perang ini begitu terkenal bukan sekadar karena dampak politiknya, melainkan taktik unik Persia. Di mana, mereka memanfaatkan kucing, hewan suci bagi bangsa Mesir, sebagai senjata psikologis di medan tempur.
Kekaisaran Persia, atau Akhemeniyah, merupakan salah satu kekaisaran terkuat dan terluas di dunia kuno. Didirikan oleh Cyrus Agung pada abad ke-6 Sebelum Masehi, wilayahnya membentang dari Lembah Indus hingga perbatasan Yunani.Setelah Cyrus wafat, Cambyses II naik takhta pada 530 Sebelum Masehi dan melanjutkan ambisi ayahnya. Target berikutnya ialah Mesir, kekuatan besar di bawah Dinasti ke-26.
Mesir saat itu dikenal sebagai peradaban maju dalam arsitektur, matematika, dan seni. Namun hubungan kedua bangsa kian tegang. Di satu sisi, Firaun Psamtik III waspada terhadap ekspansi Persia.Di sisi lain, Persia melihat penaklukan Mesir sebagai langkah strategis untuk memperluas kekuasaan dan prestise.
Di Mesir kuno, kucing memegang posisi yang unik dan dihormati. Penghormatan yang mendalam terhadap kucing ini terjalin erat dengan kepercayaan agama dan praktik budaya orang Mesir, yang menjadikan mereka lebih dari sekadar hewan di mata masyarakat.
Kucing, atau "Mau" sebagaimana dikenal di Mesir kuno, dikaitkan dengan dewi Bastet, yang juga dikenal sebagai Bast.Bastet, sering digambarkan sebagai singa betina dalam representasi awalnya dan kemudian sebagai kucing domestik, adalah dewi rumah, kesuburan, dan persalinan.
Ia juga merupakan pelindung firaun dan dewa matahari Ra. Hubungan ini memberi kucing aura suci, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari kehidupan keagamaan dan budaya di Mesir kuno.Orang Mesir percaya bahwa kucing dapat mengusir roh jahat dan membawa keberuntungan. Mereka dipelihara di rumah sebagai jimat pelindung, dan gambarnya digunakan dalam seni dan perhiasan.Membunuh kucing, bahkan secara tidak sengaja, dianggap dosa besar dan dapat dihukum mati.
Penghormatan ini meluas hingga pada titik di mana, saat terjadi kebakaran, orang Mesir akan fokus menyelamatkan kucing sebelum mencoba memadamkan api. Kucing juga dimumikan dan dikubur bersama pemiliknya, dan kuburan kucing yang luas telah ditemukan oleh para arkeolog. Hal ini semakin membuktikan status sakral mereka.
Perseteruan Raja dan Nabi Yahya AS
Kemudian terjadilah pergelutan hebat antara Nabi Yahya dan pemerintah yang berkuasa. Salah seorang penguasa di zaman itu adalah seorang yang lalim dan sempit akalnya. Kerosakan tersebar di istananya. Ia mendengar berita tentang Yahya. Ia heran kerana banyaknya manusia yang memberikan penghargaan dan penghormatan yang luar biasa kepada Yahya sedangkan ia sebagai seorang raja tidak mendapatkan penghormatan yang demikian besar.
Raja tersebut ingin memperkosa isteri saudaranya di mana ia mempunyai anak perempuan yang memiliki kecantikan yang terkenal. Dalam cerita disebutkan bahwa anak perempuan itu mampu melakukan tarian yang mengagumkan sambil memakai tujuh helai baju. Setiap ia menari, maka terlepaslah setiap baju yang dipakainya dan pada tarian yang terakhir, ia tampak dalam keadaan telanjang.
Raja bertanya kepada Yahya, apakah ia boleh menikahi isteri saudaranya. Yahya menjawab, itu tidak diperbolehkan. Raja tetap berbicara kepada Yahya dan mendesak kepadanya agar membolehkannya menikah dengan wanita yang disukainya itu, dan hendaklah Yahya mencari solusi atau fatwa yang sangat memuaskannya. Namun Yahya menolak keras untuk memenuhi permintaan raja itu. Kemudian Yahya pun meninggalkannya. Akhirnya, raja tampak marah
kepada Yahya dan memerintahkan agar Yahya dipenjara. Kemudian raja itu pun memperkosa isteri saudaranya.
Selama masa pemerintahan Persia, Mesir tetap menjadi wilayah yang beragam secara budaya. Salah satu contohnya adalah keberadaan komunitas Yahudi di kota Elephantine, di wilayah selatan Mesir.
Keberadaan komunitas ini diketahui melalui papirus berbahasa Aram yang ditemukan pada akhir abad ke-19. Dokumen-dokumen tersebut menunjukkan bahwa komunitas Yahudi di Elephantine memiliki struktur sosial sendiri, lengkap dengan sinagoge dan pemimpin komunitas.
Namun hubungan antara komunitas ini dengan masyarakat Mesir tidak selalu harmonis. Ketegangan meningkat terutama selama pemberontakan anti-Persia pada pertengahan abad ke-5 Sebelum Masehi, ketika sebagian tentara bayaran Yahudi tetap setia kepada Persia.Setelah masa pemerintahan Darius I, hubungan antara Persia dan Mesir semakin rumit. Para raja Persia berikutnya jarang memerintah langsung dari Mesir, sehingga kontrol mereka menjadi lebih lemah.
Kekuasaan Persia akhirnya runtuh ketika Mesir berhasil melepaskan diri pada akhir abad ke-4 Sebelum Masehi. Persia sempat menaklukkan kembali Mesir pada tahun 343 Sebelum Masehi, tetapi kekuasaan itu tidak berlangsung lama.Pada tahun 332 Sebelum Masehi, Aleksander Agung menaklukkan Mesir dan mengakhiri dominasi Persia di wilayah tersebut. Setelah itu, Mesir memasuki era baru di bawah pemerintahan dinasti Yunani Ptolemaik.
Jika Cambyses membuka jalan bagi kekuasaan Persia di Mesir, maka Darius I memperkuatnya melalui kebijakan yang lebih terorganisir. Darius dikenal bukan hanya sebagai penakluk, tetapi juga sebagai administrator yang cakap. Ia mempertahankan stabilitas Kekaisaran Akhemeniyah dengan memadukan berbagai budaya di dalam wilayah kekuasaannya.
Di Mesir, ia mendukung pembangunan kuil, mempertahankan tradisi keagamaan setempat, dan berusaha menampilkan dirinya sebagai firaun yang sah. Salah satu contohnya adalah pembangunan dan penyelesaian kanal yang menghubungkan Sungai Nil dengan Laut Merah.
Kanal ini sering dianggap sebagai cikal bakal jalur yang kelak berkembang menjadi Terusan Suez modern. Proyek tersebut menunjukkan bahwa Persia memiliki kepentingan ekonomi dan militer jangka panjang di wilayah Mesir.
Setelah penaklukan tersebut, Cambyses dan penerusnya, Darius I, secara resmi memerintah sebagai firaun Mesir. Hal ini membuat para sejarawan dapat melihat bagaimana Persia mencoba menyesuaikan diri dengan tradisi Mesir.
Beberapa sumber Yunani menggambarkan Cambyses sebagai penguasa yang kejam. Sejarawan Herodotus bahkan menulis bahwa Cambyses membunuh Psamtek III dan menodai tradisi keagamaan Mesir.
Namun sejumlah bukti arkeologis menunjukkan gambaran yang lebih rumit. Setelah penaklukan, Cambyses justru memerintahkan pemulihan Kuil Neith di Sais, sebuah tindakan yang menunjukkan upaya menghormati agama lokal.
Hal serupa juga terlihat dalam penghormatan terhadap banteng suci Apis, hewan yang sangat dihormati dalam kepercayaan Mesir. Cambyses bahkan meninggalkan prasasti pada sarkofagus Apis ketika hewan tersebut dimakamkan secara ritual. Tindakan ini menunjukkan bahwa ia berusaha tampil sebagai penguasa yang sah menurut tradisi Mesir.
Penaklukan Mesir oleh Cambyses tidak tercatat secara rinci dalam sumber sejarah. Hanya beberapa teks yang memberikan gambaran mengenai peristiwa tersebut.
Salah satu sumber penting berasal dari patung seorang pejabat Mesir bernama Udjahorresnet, yang pernah melayani Firaun Psamtek III sekaligus menjadi imam dewi Neith di kota Sais. Dalam inskripsi patungnya, ia menceritakan bagaimana pasukan Persia datang dengan kekuatan militer besar dan menaklukkan negeri itu.
Setelah kemenangan tersebut, Cambyses memproklamasikan dirinya sebagai raja Mesir sekaligus penguasa berbagai negeri yang berada di bawah kekuasaan Persia.
Sumber lain berasal dari penulis Yunani Polyaenus, yang menulis sekitar 600 tahun setelah peristiwa tersebut. Ia menggambarkan kisah dramatis bahwa pasukan Persia menggunakan hewan-hewan suci Mesir sebagai senjata psikologis dengan melemparkannya ke arah tentara Mesir, sehingga mereka enggan melawan. Namun karena jarak waktunya yang sangat jauh, kisah ini sering dipandang dengan skeptis oleh para sejarawan modern.
Bangsa Persia Akhemeniyah berasal dari wilayah Fars di Persia selatan, yang kini merupakan bagian dari Iran modern. Sebelum mereka bangkit sebagai kekuatan besar, wilayah ini pernah dikuasai oleh bangsa Elam dan kemudian oleh bangsa Media.
Kedua bangsa terakhir ini memiliki hubungan etnis dengan Persia karena
sama-sama berasal dari kelompok berbahasa Indo-Eropa. Namun bangsa Media sudah
lebih dahulu membangun sistem politik yang lebih terorganisir.
Dinasti Akhemeniyah sendiri mengklaim garis keturunan mereka berasal dari
seorang tokoh bernama Akhemenus, yang kemudian menjadi asal nama dinasti
tersebut. Ketika Persia membangun kekaisaran mereka, kota Susa, yang sebelumnya
menjadi pusat kekuasaan Elam, juga dijadikan salah satu ibu kota penting kerajaan.
Kebangkitan Persia dimulai ketika Cyrus Agung naik takhta pada tahun 559
SM. Ia memimpin pemberontakan melawan bangsa Media antara tahun 553 hingga 550
SM dan berhasil menumbangkan mereka. Setelah itu, Cyrus memperluas kekuasaannya
dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan besar di Timur Dekat.
Ia mengalahkan kerajaan Lydia sekitar tahun 546 SM dan kemudian menaklukkan
Babylonia pada tahun 539 SM. Penerusnya, Cambyses II, melanjutkan ekspansi
tersebut dan akhirnya menaklukkan Mesir pada tahun 525 SM.
Pada tahun 525 Sebelum Masehi, Mesir kuno jatuh ke tangan Kekaisaran Persia Akhemeniyah. Penaklukan ini menandai dimulainya pemerintahan Persia atas Mesir selama lebih dari satu abad, yang dikenal dalam sejarah Mesir sebagai Dinasti ke-27.
Saat Persia menaklukkan Mesir, kedua peradaban itu sebenarnya berada dalam kondisi yang sangat berbeda. Persia sedang berada dalam masa ekspansi besar-besaran dan membangun kekaisaran luas di Timur Dekat.
Sebaliknya, Mesir yang jauh lebih tua sedang memasuki masa yang dikenal sebagai Periode Akhir, ketika kekuasaan di Lembah Nil sering berganti tangan antara dinasti lokal dan penguasa asing. Lantas, ketika Persia menguasai Mesir kuno, apa yang sebenarnya terjadi di negeri para firaun itu?
Kisah Perjalanan Spiritual Nabi Yahya AS
Beliau mengajak manusia untuk bertaubat dari dosa mereka; beliau memandikan mereka di sungai Jordania agar mereka menyucikan diri mereka dengan taubat; beliau mengajak mereka untuk menyembah Allah SWT. Di sana tidak terdapat seseorang yang tidak suka kepada Yahya atau menginginkankeburukan baginya.
Yahya adalah seseorang yang sangat dicintai oleh masyarakatnya kerana ia memang seorang yang penyayang, seorang yang bertakwa, seorang yang alim, dan seorang yang berbudi mulia. Beliau keluar dan pergi ke gunung dan kebun bahkan gurun dan tinggal di dalamnya selama berbulan-bulan untuk menyembah Allah SWT dan menangis di hadapan-Nya serta solat. Beliau merasakan kedamaian di daratan, bahkan beliau tidak memperhatikan makanannya. Beliau makan dari daun-daun pohon dan minum dari air sungai. Bahkan beliau makan belalang dan juga rumput. Beliau tidur di gua mana pun yang ditemuinya di gunung dan lubang mana pun yang didapatinya di bumi.
Terkadang beliau masuk di suatu gua gunung lalu beliau menemukan binatang buas di dalamnya seperti serigala atau singa namun kerana kesibukannya dan konsentrasinya saat berzikir kepada Allah SWT dan solat sehingga beliau tidak lagi memperhatikan serigala atau singa. Serigala dan singa itu melihat Nabi Yahya lalu mereka mengetahui bahawa ini adalah seorang Nabi Allah SWT yang sangat berbelas kasih kepada binatang, maka binatang-binatang buas itu menundukkan kepalanya dan meninggalkan tempat itu dengan tenang sehingga Nabi Yahya tidak mendengar suara mereka.
Pada kesempatan yang lain, Nabi Yahya memberi makan binatang- binatang buas dengan penuh kasih sayang. Bahkan beliau tidak makan di malam harinya kerana makanannya diberikan kepada binatang-binatang itu. Beliau merasa puas saat menjadikan solat dan zikir sebagai makanan dari hatinya sebelum beliau memberi makanan pada tubuhnya. Beliau makan dari daun-daun pohon.
Beliau bermalam atau bergadang dalam keadaan air matanya berlinangan saat berzikir kepada Allah SWT dan tenggelam dalam lautan cinta dan bersyukur kepada-Nya. Ketika Nabi Yahya berdiri di depan manusia untuk mengajak mereka menyembah Allah SWT, maka beliau mampu membuat mereka menangis kerana cinta dan khusyuk. Beliau mampu mempengaruhi hati mereka dengan kebenaran yang dibawanya dan beliau menampakkan bahawa beliau memang dekat dengan Allah SWT.
Pada suatu hari, Nabi Yahya keluar menemui manusia. Masjid tampak ramai dipenuhi orang-orang. Nabi Yahya berdiri dan beliau mulai berbicara: "Sesungguhnya Allah SWT memerintahkan aku untuk menyampaikan kalimat-kalimat yang telah aku kerjakan dan aku telah memerintahkan kalian untuk juga mengerjakannya. Hendaklah kalian menyembah Allah SWT dan tidak menyekutukan-Nya. Barang siapa yang menyekutukan Allah SWT dan menyembah selain-Nya, maka ia seperti seorang budak yang dibeli olehmajikannya lalu ia bekerja dan memberikan tenaganya kepada tuan selain tuannya. Siapakah di antara kalian yang ingin memiliki budak seperti itu. Dan aku memerintahkan kalian untuk melaksanakan solat. Sesungguhnya Allah SWT melihat hamba-Nya saat ia solat. Oleh kerana itu, jika kalian solat, maka hendaklah kalian berusaha untuk khusyuk. Aku pun memerintahkan kalian untuk berpuasa, maka siapa yang melakukan demikian, maka ia seperti seseorang lelaki yang mempunyai bingkisan dari misik yang baunya harum. Setiap lelaki ini berjalan, maka akan terpancarlah bau harum misik darinya. Aku pun memerintahkan kalian agar banyak melakukan zikir kepada Allah SWT, maka orang seperti itu seperti seorang lelaki yang dicari-cari oleh musuhnya lalu ia segera berlindung dalam benteng yang kuat. Dan benteng yang paling kuat adalah zikrullah dan tiada keselamatan tanpa benteng itu."
Nabi Yahya mengakhiri nasihatnya lalu ia turun dari mimbar dan kembali ke gurun. Di gurun itu hanya terdapat pasir yang berterbangan dan tiada suara lain selain suara angin dan nafas pohon serta suara kaki-kaki binatang buas dan gerakan batu-batu gunung. Di sanalah Yahya berdiri di tengah-tengah kesunyian ini. Beliau melaksanakan solat dan menangis.
Prestasi Cyrus the Great dari Kekaisaran Persia AkhemeniyahSelain sebagai seorang penakluk, Cyrus the Great juga dikenang karena berbagai prestasi lainnya. “Dia dianggap sebagai pendukung awal hak asasi manusia oleh banyak orang,” Holmes menambahkan.
Setelah penaklukan Kekaisaran Neo Babilonia, Cyrus mengeluarkan dekrit yang dicatat pada apa yang disebut Silinder Cyrus. Dekrit itu memulihkan semua kuil dan praktik keagamaan serta memungkinkan banyak pengungsi untuk kembali ke rumah mereka.
Di seluruh kekaisarannya, Cyrus menerapkan kebijakan toleransi beragama. Kebijakan bijaknya telah dikagumi dan ditiru oleh para penguasa, negarawan, dan filsuf hingga saat ini.
Untuk memerintah kekaisaran yang luas, Cyrus mendirikan sejumlah wilayah administratif yang diperintah oleh satrap atau gubernur yang diberi kekuasaan luas. Mereka terhubung dengan pemerintah pusat melalui pengembangan sistem pos dan jalan yang efisien.Sepanjang ruang dan waktu, banyak orang yang menghormati pencapaian Cyrus the Great bagi Kekaisaran Persia Akhemeniyah dan dunia.Cyrus Agung atau Koresh Agung, pendiri Kekaisaran Persia Akhemeniyah, memiliki jasa yang sangat besar dan krusial bagi sejarah bangsa Yahudi. Tindakannya mengubah nasib bangsa Yahudi dari tawanan menjadi komunitas yang merdeka.Cyrus tidak hanya mengizinkan orang Yahudi pulang, tetapi juga memerintahkan pembangunan kembali Bait Suci Kedua di Yerusalem. Ia bahkan mengembalikan peralatan ibadah emas dan perak yang sebelumnya dijarah oleh Babilonia dari Bait Suci pertama.Dalam tradisi Yahudi, Cyrus dianggap sebagai sosok yang diurapi oleh Tuhan atau Mesias karena perannya yang membebaskan mereka, dan ia sangat dihormati dalam catatan Alkitab Kitab Yesaya, Ezra, dan 2 Tawarikh.
Beberapa waktu kemudian Cyrus the Great berkonflik dengan Massagetae, sebuah konfederasi nomaden di Asia Tengah. Cyrus pertama kali melamar Ratu Massagetae, Tomyris, tetapi ditolak.
Sebagai tanggapan, Cyrus melancarkan invasi ke wilayah Massagetae dan kedua belah pihak terlibat dalam pertempuran. Rincian pastinya tidak jelas, tetapi tampaknya tentara Persia Akhemeniyah telah dikalahkan dan sang pemimpin dibunuh.
Menurut sebuah cerita, setelah pertempuran, jenazah Cyrus dibawa ke hadapan Tomyris, yang kemudian dipenggal. Dia kemudian mencelupkan kepalanya ke dalam bejana berisi darah. Hal itu merupakan tindakan balas dendam karena Cyrus dikatakan telah menipu dan membunuh putranya.
Setelah Cyrus the Great meninggal, sekitar tahun 530 atau 529 Sebelum Masehi, jenazahnya dikebumikan di ibu kotanya, Pasargadae. Meskipun kota ini kini hancur, makamnya sendiri masih bertahan. Di dalam makam Cyrus the Great dimakamkan di peti mati emas, diletakkan di atas meja dengan penyangga emas.
Makam itu dipenuhi barang-barang mewah lainnya dan dikelilingi taman yang indah. Di atas makam itu tertulis kata-kata: “Wahai manusia, siapa pun kamu dan dari mana pun kamu berasal, karena aku tahu kamu akan datang, akulah Cyrus yang memenangkan Kerajaan Persia. Oleh karena itu, jangan iri padaku karena sebidang tanah yang menutupi tulang-tulangku.”
Pembebasan Babilonia
Pada tahun 540 Sebelum Masehi, Cyrus merebut Kerajaan Elam di Mesopotamia timur. Kekaisaran Persia Akhemeniyah kini berbatasan dengan Kekaisaran Neo-Babilonia. Pada saat itu Kekaisaran Neo-Babilonia diperintah oleh Nabonidus.
Nabonidus berkuasa melalui kudeta dan kemudian berselisih dengan pendeta kuat Marduk, salah satu dewa utama Babilonia. Tindakan itu membuat Nabonidus sangat tidak populer di kalangan masyarakat Babilonia. Di sisi lain, masyarakat Babilonia memandang Cyrus sebagai calon pembebas.
Cyrus menginvasi Babilonia pada tahun 539 Sebelum Masehi. Pasukan Kekaisaran Persia Akhemeniyah dengan cepat mengalahkan tentara Babilonia dalam pertempuran singkat di tepi Sungai Efrat.
Nabonidus melarikan diri ketika Cyrus mendekati kota Babel itu sendiri. Babel adalah salah satu kota terbesar di Timur Dekat Kuno. “Kota itu memiliki populasi cukup besar dan pertahanan yang mengesankan,” ungkap Holmes.
Pasukan Persia Akhemeniyah merebut kota tersebut dengan mengalihkan Sungai Efrat ke kanal terdekat. Hal tersebut memungkinkan mereka mengarungi dasar sungai dan memasuki kota pada malam hari.
Babilonia kemudian jatuh tanpa perlawanan dan Cyrus mencegah pasukannya menjarah kota tersebut. Nabonidus menyerah tak lama kemudian. Cyrus the Great akhirnya menguasai seluruh Mesopotamia, Siria, dan Levant. Kekaisaran besarnya sekarang menjadi yang terbesar yang pernah ada di dunia kuno.
Cyrus the Great melawan Croesus dari Lydia
Sekitar tahun 547 Sebelum Masehi Croesus, Raja
Lydia yang terkenal kaya raya, menyerang kota yang dikuasai Persia di Anatolia
tengah. Cyrus memimpin pasukannya melawan Lydia dan kedua belah pihak bertempur
hingga seri.
Setelah itu Croesus mundur untuk mengumpulkan
sekutu karena ini adalah akhir musim pertempuran. Namun, Cyrus terus maju dan
menyerang ibu kota Lydia di Sardis. Croesus kembali berbaris untuk berperang.
Kemudian Harpagus menyarankan Cyrus untuk
menempatkan untanya di depan pasukannya. Konon pemandangan, suara, dan bau
binatang yang asing akan menyebabkan kuda kavaleri Lydia menghindar. Cyrus
mengikuti saran Harpagus dan dalam pertempuran berikutnya berhasil menangkap
Croesus dan mengusir pasukannya.
Daripada mengeksekusi musuh lamanya, Cyrus
menyelamatkan nyawa Croesus dan menjadikannya seorang penasihat.
Ketika Cyrus memulai perjalanannya kembali ke
Persia, orang-orang Lydia merebut perbendaharaan Croesus yang sangat besar.
Mereka menyewa pasukan tentara bayaran dan memberontak. Cyrus mengirimkan dua
jenderalnya untuk menangani situasi tersebut.
Setelah menumpas pemberontakan, mereka
menaklukkan seluruh Anatolia, menambahkan Ionia, Lycia, Kilikia, dan Phoenicia
ke dalam Kekaisaran Persia Akhemeniyah.
Cyrus Agung dikenal sebagai pendiri Kekaisaran Persia yang luas dan berpengaruh. Ia memimpin pada abad ke-6 SM dan berhasil menyatukan banyak wilayah di bawah kepemimpinannya. Dalam sejarah dunia, Cyrus dipandang sebagai raja bijaksana yang memperluas wilayahnya tanpa menindas rakyat.
Beberapa ulama dan sejarawan bahkan mengaitkan Cyrus dengan sosok Zulqarnain yang disebut dalam Al-Qur’an. Meskipun terdapat perbedaan pendapat, kemiripan sifat dan kebijakan Cyrus dengan Zulqarnain menjadi bahan kajian menarik. Ia dikenal sebagai pemimpin yang adil, melindungi yang lemah, serta menghormati kebebasan beragama.
Kepemimpinan Cyrus bukan hanya soal ekspansi militer, tetapi juga tentang menciptakan tatanan masyarakat yang damai. Ia memadukan kekuatan dengan kebijakan yang penuh toleransi. Hal inilah yang membuatnya dihormati, bukan hanya oleh rakyat Persia, tetapi juga oleh bangsa-bangsa yang ditaklukkannya.Cyrus Agung meninggalkan jejak penting dalam sejarah. Namanya dikenang sebagai simbol pemimpin besar yang menyeimbangkan kekuasaan dengan nilai-nilai kemanusiaan.