Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Sabtu, 25 Oktober 2025

Kisah Ketampanan Nabi Yusuf A.S

 Kisah Ketampanan Nabi Yusuf A.S

Tuan    rumah    itu  tidak meminta perincian atau kronologis peristiwa yang terjadi antara isterinya dan pemuda yang mengabdi padanya. Yang ia minta adalah agar pembicaraan ini ditutup   sampai   di   sini   saja.   Tetapi   masalah   ini   sendiri   meskipun   terjadi   di kalangan masyarakat yang terpandang tidak dapat begitu saja di tutup. Alhasil, masalah tersebut akhirnya tersebar kemana- mana. Peristiwa itu tersebar dari satu istana ke istana-istana penguasa saat itu. Kemudian wanita-wanita yang tinggal di istana itu mulai ramai- ramai menjadikannya sebagai bahan cerita.

Kisah Ketampanan Nabi Yusuf A.S

Kemudian masalah itu pun tersebar di penjuru kota:

"Dan    wanita-wanita       di  kota   berkata:    'Isteri  al-Aziz   menggoda      bujangnya untuk menundukkan   dirinya   (kepadanya),   sesungguhnya   cintanya   kepada bujangan itu adalah sangat mendalam, Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata. " (QS. Yusuf: 30)

Di sini kita mengetahui bahawa yang dimaksud wanita dalam kasus roman itu adalah   isteri   dari   al-Aziz   dan   bahawa   laki-laki   itu   yang   membeli   Yusuf   dari Mesir itu adalah seorang menteri di Mesir, yakni seorang pembesar atau tokoh atau    ketua   dari   para   menteri.    Barangkali    ketika   membeli     Yusuf,   ia  masih menjadi      menteri    biasa   lalu  setelah    itu  ia  naik  jabatan.    Dan   sekarang     ia menjadi kepala menteri di Mesir. Akhirnya   berita   tersebut   berpindah   dari   satu   mulut   ke   mulut   yang   lain,   dan dari satu rumah ke rumah yang lain sehingga sampailah berita itu ke telinga isteri   al-Aziz.   Barangkali   dikatakan   kepadanya:   "Penduduk   kota   banyak   yang membicarakan kisah romantismu." la berkata: "Kisah romantisku dengan siapa?" Dikatakan      padanya:   "Dengan     Yusuf."   Ia  berkata:    "Aku   memang   tidak   dapat memungkiri   bahawa   aku   mencintainya."   Dikatakan   kepadanya:   "Semua   isteri menteri membicarakan tentang kecenderunganmu padanya." Ia berkata: "Apa yang mereka katakan?" Dikatakan kepadanya: "Sungguh engkau berada di dalam kesesatan   yang   nyata."   Ia   berkata   mulai   tampak   emosinya:   "Kesesatan   apa? Siapa    yang   mengatakan       bahawa     aku   tersesat.   Tidakkah     wanita-wanita      itu pernah melihat bagaimana si Yusuf? Apakah mereka mengetahui daya tariknya? Siapa mereka itu yang mengatakan demikian? Sebutkanlah padaku nama-nama wanita-wanita yang banyak bicara itu."Isteri al-Aziz terdiam sebentar dan tampaknya ia sedang berfikir. Kemudian ia telah menetapkan sesuatu dan memerintahkan untuk mendatangkan para juru masak. Akhirnya, para juru masak datang ke istana. Ia memberitahu mereka bahawa   ia   akan   menyiapkan   suatu   jamuan   besar   di   istana.   Ia   telah   memilih berbagai      macam     hidangan     dan    minuman.      Ia  telah    memerintahkan   agar

diletakkan      pisau-pisau     yang    tajam     di   sebelah     buah-buah      apel   yang dihidangkan, dan hendaklah juga diletakkan kain putih di sebelah wadah atau piring-piring yang di situ diletakkan apel, juga diletakkan bantal-bantal yang memang saat itu menjadi tradisi masyarakat timur. Kemudian ia mengundang kaum hawa yang membicarakan petualangan cintanya dengan Yusuf. Akhirnya, datanglah hari jamuan itu. Wanita-wanita dari kalangan masyarakat elit segera berdatangan   menuju   ke   istana   kepala   menteri.   Isteri   al-Aziz   memanfaatkan acara itu sebagai kesempatan emas untuk menunjukkan seorang pemuda yang paling tampan dan paling mengagumkan.

Undangan   tersebut   dibatasi   hanya   di   kalangan   wanita   sehingga   mereka   lebih leluasa   dan   lebih   bebas   untuk   mendengarkan   cerita   dan   untuk   mengobrol. Mereka duduk dan bersandar di atas bantal-bantal sambil makan dan minum. Pesta jamuan itu terus berlangsung di mana dihidangkan di atasnya makanan yang istimewa dan minuman yang dingin dan sangat menyenangkan orang yang melihatnya.

Tempat   pesta   itu   dipenuhi   dengan   berbagai   macam   komentar   dan   berbagai macam canda tawa. Kami kira bahawa setiap wanita yang hadir di tempat itu sengaja     menahan      lidahnya    agar   jangan    sampai    menyentuh      kisah   Yusuf. Sebenarnya mereka semua mengetahui peristiwa yang terjadi antara Yusuf dan wanita     perdana    menteri     itu,  tetapi   mereka    sengaja    menyembunyikannya seakan-akan mereka tidak mengetahuinya. Demikianlah aturan main yang biasa dipegang   oleh   kalangan   elit   dari   masyarakat   saat   itu.   Namun,   isteri   al-Aziz, sebagai     tuan   rumah,    justru   menggugah       mereka    dan   ia   justru  membuka persoalan     tersebut:    "Aku   mendengar      ada   wanita-wanita     yang    mengatakan bahawa aku jatuh cinta pada seorang pemuda yang bernama Yusuf." Tiba-tiba keheningan yang menyelimuti meja makan itu runtuh dan tangan-tangan para undangan nyaris lumpuh. Isteri al-Aziz benar-benar mencuri kesempatan itu. Ia bercerita sambil memerintahkan para pembantunya untuk menghadirkan apel. "Aku   mengakui   bahawa   memang   Yusuf   seorang   pemuda   yang   mengagumkan. Aku tidak mengingkari bahawa aku benar-benar mencintainya, dan aku telah mencintainya sejak dahulu," kata isteri al- Aziz dengan nada serius. Kemudian wanita-wanita   itu   mulai   mengupas   apel.   Saat   itu   peradaban   di   Mesir   telah mencapai       puncak     yang    jauh    di  mana     gaya    hidup    mewah      menghiasi istana-istana.

Pengakuan isteri al-Aziz menciptakan suatu kedamaian umum di ruangan itu. Jika isteri al-Aziz saja mengakui bahawa ia memang jatuh cinta kepada Yusuf, maka      pada    gilirannya    mereka     pun   berhak    untuk    mencintainya.       Meskipun demikian,      mereka     mengisyaratkan       bahawa      seharusnya     isteri   al-Aziz   tidak cenderung       pada   Yusuf    justru   sebaliknya,     ia  harus   menjadi     tempat     cinta. Seharusnya,       ia  yang    dikejar   oleh    lelaki,  bukan     sebaliknya.    Isteri   al-Aziz mengangkat   tangannya   dan   mengisyaratkan   agar   Yusuf masuk   dalam   ruangan itu. Kemudian Yusuf masuk di ruang makan itu. Ia dipanggil oleh majikannya kemudian ia pun datang. Kaum wanita masih mengupas buah, dan belum lama Yusuf   memasuki   ruangan   itu   sehingga   terjadilah   apa   yang   dibayangkan   oleh isteri al-Aziz.

Tamu-tamu wanita itu tiba-tiba membisu. Sungguh mereka tercengang ketika menyaksikan wajah yang bercahaya yang menampakkan ketampanan yang luar biasa,    ketampanan       malaikat.     Wanita-wanita      itu   pun   terdiam     dan   mereka bertakbir, dan pada saat yang sama mereka terus memotong buah yang ada di tangan   mereka   dengan   pisau.   Semua   pandangan   tertuju   hanya   kepada   Yusuf dan tak seorang pun di antara wanita itu melihat buah yang ada di tangannya. Akhirnya, wanita-wanita itu justru memotong tangannya sendiri namun mereka tidak    lagi   merasakannya.   Sungguh     kehadiran     Yusuf    di  tempat     itu  sangat mengagumkan mereka sampai pada batas mereka tidak merasakan rasa sakit dan keluarnya darah dari tangan mereka.

Salah   seorang   wanita   berkata   dengan   suara   yang   pelan:   "Subhanallah   (Maha Suci Allah)." Wanita yang lain berkata dengan suara lembut yang menampakkan kehairanan: "Ini bukan manusia biasa." Sedangkan wanita yang ketiga berkata: "Ini   tiada   lain   adalah   seorang   malaikat   yang   mulia."   Tiba-tiba   isteri   al-Aziz berdiri    dan    berkata:    "Inilah  dia   orang   yang    kalian   cela   aku   kerana    daya tariknya.     Memang      tidak   aku   pungkiri    bahawa     aku   pernah    merayunya      dan menggodanya untuk diriku. Di hadapan kalian ada handuk-handuk putih untuk membalut   luka.   Sungguh   kalian   telah   dikuasai   oleh   Yusuf,   maka   lihatlah   apa yang     terjadi    pada    tangan-tangan       kalian."    Akhirnya,     pandangan       mereka sekarang   berpindah dari Yusuf ke jari-jari mereka   yang   terpotong   oleh   pisau yang tajam di mana mereka tidak lagi merasakannya.

Kami     kira   Yusuf   melihat     atau   memandang        ke  arah    bawah     (tanah),   atau mengarahkan   pandangannya   ke   depannya   tanpa   ada   maksud   tertentu,   tetapi ketika   disebut   ada   darah yang   keluar   di sekitar   tempat   jamuan   itu,   maka   ia pun melihat ke arah tempat jamuan itu. Yusuf dikejutkan dengan adanya darah yang mengalir di sekitar buah apel yang keluar dari jari-jari wanita itu. Yusuf segera   mendatangkan   perban   dan   air   seperti   biasa   yang   dilakukan   pemuda yang   bekerja   di   istana.   Kami   kira   bahawa   isteri   al-Aziz   berkata   saat   Yusuf memerban        luka    yang    dideritai   oleh    para    wanita:    "Sungguh     aku    telah menggodanya namun ia mampu menahan dirinya. Jika dia tidak menaati apa yang aku perintahkan kepadanya, nescaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang- orang yang hina." Kami   kira   Yusuf   tidak   menghiraukan   ucapannya   dan   tidak   mengomentarinya.

Beliau adalah seorang Nabi, tetapi tragedi wanita tersebut adalah bahawa ia mencintai       seorang     nabi.    Kami     kira   juga     bahawa      wanita-wanita       itu menggodanya pada saat mereka hadir di tempat jamuan. Salah seorang yang sangat   cantik  berkata   kepada   Yusuf   saat   beliau   membalut   lukanya:   "Sungguh sekadar engkau memandang tanganku hai Yusuf, itu sudah cukup bagiku untuk mengubati      jariku   yang   terpotong."     Atau   ada   wanita   lagi  yang   mengatakan padanya: "Yusuf, tidakkah engkau menginginkan seorang perempuan yang akan membersihkan         sepatumu      dan   akan    mencuci      pakaianmu      dan    yang   akan mengabdi kepadamu."

Barangkali   wanita-wanita   yang   hadir   di   pesta   jamuan   itu   memiliki   berbagai macam       cara   untuk    menggoda.      Mungkin    sebahagian      mereka     menggunakan senjata   mata   atau   senjata   bulu   mata   atau   senjata   fizik   untuk   mendapatkan Yusuf. Kita tidak mengetahui secara pasti apa yang terjadi di tempat jamuan itu. Biarkanlah daya khayal kita menggembara dan menggambarkan apa yang sebenarnya   terjadi.   Tampak   bahawa   berbagai   godaan   ditujukan   pada   Yusuf dari   wanita-wanita   yang   hadir   dan   diundang   di   acara   itu.   Yusuf   berdiri   di tengah-tengah ujian yang berat ini dengan penuh kehairanan:

"Yusuf     berkata:     "Wahai     Tuhanku,       penjara     lebih   aku    sukai    daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku.'" (QS. Yusuf: 33)

Semua wanita-wanita yang ikut serta dalam undangan tersebut mencuba untuk menundukkan   Yusuf   dengan   menggunakan   lirikan,   gerakan-gerakan   tertentu, atau isyarat atau dengan bahasa yang jelas. Yusuf memohon pertolongan Allah s.w.t agar ia diselamatkan dari tipu daya mereka. Ia berdoa kepada Allah s.w.t sebagai seorang manusia yang mengenal kemanusiaannya dan tidak terpedaya dengan   kemaksumannya   dan   kenabiannya. Ia   berdoa   kepada   Allah   s.w.t   agar memalingkan   tipu   daya   mereka   darinya   sehingga   ia   tidak   cenderung   kepada mereka   dan   kemudian   menjadi   orang   yang   bodoh.   Allah   s.w.t   mengabulkan doanya.   Kemudian   tangan-tangan   yang   terputus   mulai   merasakan   kesakitan, dan    Yusuf   meninggalkan      ruang    makan    itu.  Setiap    wanita   sibuk   memerban lukanya     dan   masing-masing      mereka     berfikir  tentang    alasan   apa   yang   akan mereka sampaikan ketika suami mereka bertanya tentang tangan mereka yang terpotong itu? Dan, di mana peristiwa itu terjadi?

Allah s.w.t menceritakan jamuan yang besar itu dalam firman-Nya:

"Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundanglah wanita-wanita       itu  dan    disediakannya      bagi   mereka    tempat     duduk,    dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan) kemudian dia berkata (kepada Yusuf): 'Keluarlah       (nampakanlah        dirimu)      kepada      mereka.'      Maka      tatkala wanita-wanita itu   melihatnya,   mereka   kagum   akan   keelokan   rupanya, dan mereka   melukai   (jari)   tangannya   dan   berkata:   'Maha   sempurna   Allah,   ini bukanlah      manusia.    Sesungguhnya       ini  tidak   lain  hanyalah    malaikat    yang mulia.   Wanita   itu   berkata:   'Itulah   dia   orang   yang   kamu   cela   aku   kerana (tertarik)    kepadanya      dan   sesungguhnya       aku   telah   menggoda      dia  untuk menundukkan          dirinya     (kepadaku)      akan     tetapi    dia    menolak.      Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, nescaya dia akan termasuk golongan orang- orang yang hina. Yusuf berkata:

'Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku.   Dan   jika  tidak Engkau  hindarkan   daripadaku  tipu  daya mereka, tentu     aku   akan    cenderung      untuk    (memenuhi       keinginan    mereka)     dan tentulah      aku    termasuk      orang-orang       yang    bodoh.'     Maka     Tuhannya memperkenankan   doa   Yusuf   dan   Dia   menghindarkan   Yusuf   dari   tipu   daya mereka.       Sesungguhnya        Dia-lah     Yang     Maha     Mendengar       lagi    Maha Mengetahui." (QS. Yusuf: 31-34)

Allah   s.w.t   berhasil   memalingkan   dan   menyelamatkan   Yusuf   dari   tipu   daya wanita itu. Akhirnya, wanita-wanita itu merasa putus asa untuk mendapatkan Yusuf dan mendapatkan cinta darinya, sehingga mereka merasa bahawa rasa cinta    mereka    kepada    Yusuf   adalah   sesuatu   keinginan    yang   mustahil   untuk diwujudkan.      Keinginan-keinginan       yang   mustahil    ini  justru  membangkitkan ingatan mereka kepada Yusuf lebih daripada sebelumnya.

 

0 comments:

Posting Komentar