Doa Nabi Sulaiman AS
Sulaiman tidak merasa puas dengan apa yang telah diwarisinya dari Daud. Ambisinya mendorongnya untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar. Pada suatu hari ia menadah tangannya dan berdoa kepada Allah s.w.t. Antara hati Nabi dan Allah s.w.t tidak ada penghalang, jarak, atau waktu.
Tak seorangpun dari para nabi yang berdoa kepada Allah s.w.t kecuali doanya pasti terkabul. Kejernihan hati ketika mencapai puncak tertentu, maka ia akan menggapai apa saja yang diinginkan di jalan Allah s.w.t. Dalam doanya, Nabi Sulaiman berkata:
"Ia
berkata: Ya Tuhanku, ampunilah aku
dan anugerahilah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki
oleh seseorangpun sesudahku." (QS. Shad: 35)
Sulaiman menginginkan dari Allah s.w.t suatu kerajaan yang belum pernah diperoleh oleh siapa pun setelahnya. Allah s.w.t mengabulkan doa hamba-Nya Sulaiman dan memberinya kerajaan tersebut. Barangkali orang-orang yang hidup di saat ini bertanya-tanya mengapa Sulaiman meminta kerajaan ini yang belum pernah dicicipi oleh seorang pun setelahnya? Apakah Sulaiman - sesuai dengan bahasa kita saat ini - seorang lelaki yang gila kekuasaan. Tentu kita tidak menemukan sedikit pun masalah yang demikian dalam hati Sulaiman. Ambisi Sulaiman untuk mendapatkan kekuasaan atau kerajaan adalah ambisi yang ada di dalam seorang nabi, dan tentu ambisi para nabi tidak berkaitan kecuali dengan kebenaran. Ambisi tersebut adalah bertujuan untuk memudahkan penyebaran dakwah di muka bumi. Sulaiman sama sekali tidak cinta kepada kekuasaan dan ingin menunjukkan sikap kesombongan namun beliau ingin mendapatkan kekuasaan untuk memerangi kelaliman yang menyebar di muka bumi.
Perhatikanlah kata-kata Sulaiman kepada Balqis ketika beliau berdialog dengannya tentang singgahsananya dalam surah
an-Naml:
"Dan
ketika Balqis datang,
ditanyakanlah
kepadanya: 'Serupa inikah singgahsanamu?' Dia menjawab:
'Seakan-akan singgahsana ini singgahsanaku, kami telah
diberi pengetahuan sebelumnya
dan kami adalah
orang-orang yang berserah diri." (QS. an-Naml: 42)
Demikianlah kata-kata Sulaiman yang bijaksana. Menurut kami, itu adalah kata-kata yang membenarkan permintaannya untuk memiliki kekuasaan dan kekuatan. Sulaiman telah mengerahkan semua kemuliaan dan kekuasaannya dalam rangka menegakkan agama Allah s.w.t dan menyebarkan Islam. Tidakkah ratu Saba' berkata pada akhir ceritanya bersama Sulaiman:
"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat lalim
terhadap diriku dan aku berserah
diri bersama Sulaiman
kepada Allah, Tuhan
semesta alam." (QS. an-Naml: 44)
Setelah Mukadimah pokok ini, marilah kita membuka halaman-halaman cerita Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman mewarisi kekuasaan, kenabian, dan hikmah (ilmu) dari Daud. Orang-orang menyebutnya: Sulaiman al-Hakim (Sulaiman yang bijaksana). Kebijaksanaan Nabi Sulaiman tidak terbatas pada keadilannya di tengah-tengah manusia dan kasih sayangnya kepada mereka namun kebijakan Sulaiman juga berlaku di kalangan burung dan binatang lainnya. Nabi Daud juga mengenal bahasa burung, tetapi Sulaiman dapat berbicara dengan bahasa burung, bahkan ia dapat menjadikannya pembantunya. Ketika Nabi Daud bertasbih, maka gunung- gunung dan burung-burung serta binatang-binatang buas pun ikut bertasbih bersamanya bahkan angin pun berhenti untuk mendengarkan tasbih ini, sedangkan Nabi Sulaiman, Allah s.w.t memberinya kurnia lebih dari itu di mana binatang-binatang buas tunduk padanya, begitu juga angin dan burung.
Allah s.w.t berfirman:
"Dan
sesungguhnya Kami telah
memberi ilmu kepada
Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: 'Segala
puji bagi Allah yang melebihkan kami dari
kebanyakan
hamba-hamba-Nya yang beriman.'
Dan Sulaiman telah mewarisi Daud dan dia berkata: 'Hai
manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi
segala sesuatu, sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang
nyata.'" (QS. an-Naml: 15-16)

0 comments:
Posting Komentar