Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Selasa, 23 Desember 2025

golongan muktazilah

 Sejarah Lahirnya Aliran Mu’tazilah.

 Secara harfiah kata Mu’tazilah berasal dari I’tazalah yang berarti berpisah atau memisahkan diri yang berarti juga menjauh atau menjauhkan diri. Muktazilah adalah aliran teologi dalam Islam yang berlandaskan akal atau rasional. Aliran ini juga dikenal sebagai "kaum rasionalis Islam".

golongan muktazilah


  Secara tekhnis istilah Mu’tazilah menunjuk pada dua golongan, yaitu :

a. Golongan pertama muncul sebagai respon politik murni, golongan ini tumbuh sebagai kaum netral politik, khususnya dalam arti bersikap lunak dalam menangani pertentangan  antara Ali bin Abi Thalib dan lawan lawannya, terutama Mu’awiyah, Aisyah, Thalhah   dan Abdullah bin Zubeir. Golongan inilah   yang mula mula disebut kaum Mu’tazilah  karena mereka menjauhkan diri dari masalah pertikaian khilafah. Kelompok ini bersikap  netral tanpa stigma teologi.

b. Golongan kedua muncul sebagai respon persoalan teologi yang berkembang di kalangan Khawarij  dan Murji’ah  akibat adanya peristiwa  Tahkim. Golongan ini muncul karena mereka berbeda pendapat dengan golongan Khawarij dan Murji’ah tentang pemberian status kafir terhadap pelaku dosa besar.

 Beberapa  versi  tentang  pemberian  nama  Mu’tazilah  berpusat  pada  peristiwa  yang  terjadi antara Washil bin Atha dan temannya Amr bin Ubaid dan Hasan Al Basri di Basrah.

Ketika Washil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh Hasan al Basri di mesjid Basrah, datanglah seseorang yang bertanya mengenai pendapat Hasan Al Basri tentang orang yang berdosa  besar.  Ketika   Hasan   Barsi   masih   berpikir  Washil  mengemukakan   pendapatnya dengan mengatakan: “ Saya berpendapat bahwa orang yang berbuat dosa besar bukanlah  mukmin dn bukan pula kafir, tetapi berada pada posisi di antara keduanya, tidak mukmin dan tidak kafir.” Kemudian Washil menjauhkan diri dari Hasan Al Basri dan pergi ke tempat lain   di   lingkungan   mesjid.   Di   tempat   itu  Washil  mengulangi   pendapatnya   di   hadapan pengikutnya. Dengan adanya peristiwa ini Hasan Al Basri berkata: “ Washil menjauhkan diri   dari  kita (I’tazaala  anna)     maka    dengan    adanya    peristiwa   ini  maka   Washil   dan kelompoknya dinamakan kaum Mu’tazilah.

 Versi lain dikemukakan olehAl Baghdadi ia mengatakan bahwa Washil dan temannya Amr bin Ubaid diusir oleh Hasan Al Basri dari majlisnya karena ada pertikaian tentang masalah   qadla  dan   orang   yang  berbuat   dosa  besar,   lalu   keduanya   menjauhkan   diri   dari Hasan Al Basri dan berpendapat bahwa orang yang berdosa besar itu tidak mukmin dan tidak pula kafir. Oleh karena itu golongan ini dinamakan golongan Mu’tazilah.

 Versi lain dikemukakan oleh Tasy Kubra Zadah yang menyebut bahwa Qatadah bin Da’mah pada suatu hari masuk mesjid Basrah dan bergabung dengan majlis Amr bin Ubaid yang disangkanya adalah majlis Hasan Al Basri. Setelah mengetahui bahwa majlis tersebut bukan majlis Hasan Al Basri maka ia berdiri dan meninggalkan tempat sambil berkata: “ini  kaum Mu’tazilah.”Sejak itulah kaum tersebut dinamakan kaum Mu’tazilah.

 Al Mas’udi memberikan keterangan tentang asal usul kemunculan Mu’tazilah tanpa menghubungkannya dengan peristiwa antara Washil dan Hasan Al Basri. Tetapi mereka diberi Mu’tazilah karena berpendapat bahwa orang yang berdosa bukanlah mukmin dan bukan pula kafir, tetapi menduduki tempat diantara kafir dan mukmin. (al manzila bain al manzilatain)

Di   samping   keterangan   keterangan   ini   ada   teori   baru   yang   dikemukakan   oleh Ahmad Amin bahwa nama Mu’tazilah sudah terdapat sebelum adanya peristiwa  Washil dengan Hasan Al Basri dan sebelum timbulnya pendapat tentang posisi diantara dua posisi  jika hal ini digunakan untuk orang orang yang tidak mau ikut campur dengan peristiwa  peristiwa yang terjada pada masa Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Mu’awiyah bin   Sofwan dan lain lain.( golongan yang saling bertikai).

 Dengan   demikian   golongan  Mu’tazilah  mempunyai   corak   politik   yang   diawali dengan peristiwa peristiwa khalifah yang dilanjutkan dengan persoalan persoalan teologi dan falsafat ke dalam ajaran ajaran Mu’tazilah.

       Untuk mengetahui dengan jelas asal usul nama Mu ’tazilahini memang sulit karena berbagai   pendapat   diungkapkan   oleh   para   ahli   tetapi   belum   adanya   kata   sepakat   antara mereka dari mana asal usul nama Mu’tazilah tersebut. Menurut hemat penulis bahwa nama mu’tazilah  itu  muncul  dari  sikap  orang  orang  pada  masa   itu.  Tetapi  yang   jelas   bahwa golongan Mu’tazilah merupakan aliran teologi yang mengedepankan akal sehingga mereka  mendapat nama “kaum rasionalis Islam.”

Kaum  Mu’tazilah  adalah   golongan   yang   membawa   persoalan   persoalan   teologi yang lebih mendalam dan bersifat filosofis dibanding dengan persoalan persoalan   yang dibawa kaum Khawarij dan Murji’ah.

0 comments:

Posting Komentar