KISAH NABI ZULKIFLI A.S
Allah s.w.t memasukkan
Zulkifli dalam rahmat-Nya.
Allah s.w.t memujinya sebagai hamba yang sabar dan Dia
menyebutkannya bersama Ismail dan Idris. Allah s.w.t berfirman:
"Dan
(ingatlah) kisah Ismail,
Idris dan Dzulkifli.
Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar. Kami telah
memasukkan mereka ke dalam rahmat Kami.
Sesungguhnya mereka termasuk
orang-orang yang saleh." (QS. al-Anbiya': 85-86)
Disebutkan bahwa beliau
menanggung kebutuhan kaumnya. Beliau
yang mengurusi mereka; beliau
menegakkan keadilan di
antara mereka. Ketika beliau melakukan tugas
itu, beliau mendapat
julukan DzulKifli. Banyak
dongeng yang dibuat berkenaan dengan cerita beliau.
Al-Qur'an hanya menyebut
namanya dan memujinya
tanpa menyertakan satu kisah yang lengkap tentangnya, bahkan
masa dakwahnya pun tidak diketahui. Kita
tidak mengetahui siapa
kaum Nabi ini
dan bagaimana beliau
diutus di tengah-tengah mereka
serta bagaimana kaumnya
memenuhi panggilan dakwahnya.
Sumber yang lain
Terdapat sejumlah keterangan yang berbeda-beda dalam
berbagai literatur Muslim mengenai Zulkifli , baik latar belakang, jati diri,
maupun kisahnya. Semuanya tidak berasal dari Al-Qur'an dan hadits, tapi dari
tafsiran para ulama dan beberapa sumber lain. Beberapa keterangan tersebut
menyebutkan bahwa Zulkifli adalah:
- ·
Bisyr bin Ayyub
- · Penerus Ilyasa'
- · Yehezkiel
- · Siddhartha Gautama
Beberapa pendapat yang disebutkan ini pada dasarnya berdiri
sendiri-sendiri dan tidak dapat digabungkan, karena terdapat perbedaan waktu
dan tempat.
Putra Ayyub
Sebagian
menyatakan bahwa dia adalah Bisyr atau Basyar, putra Ayyub.[6] Sebagian
pendapat menyebutkan bahwa Ayyub adalah leluhur bangsa Romawi Kuno[7] atau
berdakwah pada bangsa Romawi, sehingga Zulkifli juga kerap dikaitkan dengan
Romawi sebagai penerus tugas dakwah Ayyub
Penerus
Ilyasa'
Pendapat lain
menerangkan bahwa dia adalah orang yang meneruskan tugas Ilyasa' (Elisa)
dalam membimbing Bani Israil. Ilyasa' sendiri adalah keturunan jauh Ya'qub dan
hidup pada abad ke-9 SM.
Ibnu Jarir
dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan[9][10] bahwa
setelah Ilyasa' sudah tua, dia mencari orang yang bisa meneruskannya membimbing
masyarakat. Dia kemudian mengumpulkan orang-orang untuk mencari penerusnya di
antara mereka, dengan syarat bahwa dia bisa selalu puasa di siang hari, ibadah
malam, dan tidak marah. Seorang lelaki yang dianggap hina mengajukan diri,
tetapi Ilyasa' menolak kesanggupan orang tersebut. Kemudian seorang lelaki lain
mengajukan diri dan Ilyasa' menerimanya.
Suatu ketika,
setan menjelma sebagai kakek-kakek renta yang miskin. Dia mendatangi lelaki
penerus Ilyasa' ini pada tengah hari pada jadwal lelaki tersebut tidur siang.
Lelaki ini tidak tidur pada siang ataupun malam hari selain saat tidur siang
tersebut. Setelah dipersilakan masuk, kakek tersebut menceritakan pada lelaki
tersebut kalau dirinya dizalimi oleh kaumnya. Kakek tersebut bercerita sangat
lama sampai sore sehingga laki-laki tersebut tidak bisa tidur siang. Laki-laki
tersebut kemudian meminta kakek itu untuk hadir di majelisnya pada sore hari
untuk memutuskan perkara. Namun setelah sore, kakek itu tidak hadir.
Esok harinya,
laki-laki tersebut memutuskan sengketa di antara kaumnya, tetapi kakek itu
tidak ada juga. Saat lelaki itu hendak tidur siang, barulah kakek itu datang.
Saat ditanya alasannya tidak datang di majelis sebelumnya, kakek itu beralasan
bahwa kaumnya menjanjikan akan memberikan hak kakek itu, sehingga dia tidak
jadi datang ke majelis, tapi kemudian mereka mengingkarinya lagi. Laki-laki
tersebut meminta kakek itu untuk datang lagi saat sore. Kembali lelaki itu
tidak bisa tidur siang lantaran percakapannya dengan kakek itu.
Namun saat
sore, kakek itu tidak datang lagi. Dikarenakan sangat mengantuk dan ingin
istirahat, laki-laki itu kemudian meminta orang-orang untuk tidak membiarkan
seorangpun mengganggu waktu istirahatnya. Saat kakek itu kembali, penjaga
benar-benar melarang kakek itu untuk bertamu. Kakek yang merupakan jelmaan
setan itu kemudian masuk ke dalam rumah melalui sebuah lubang. Lelaki itu
kemudian berkata, "Wahai fulan, bukankah aku telah bilang kepadamu, jangan
menggangguku ketika aku sedang tidur?" Namun setelah tahu bahwa pintu
rumahnya terkunci, barulah tersadar kalau kakek itu adalah jelmaan setan. Dia
berusaha membuat lelaki itu marah, tetapi gagal. Lelaki yang diganggu kakek
jelmaan setan dalam kisah tersebut diidentifikasikan sebagai Zulkifli .[11] Kisah
ini tidak terdapat dalam Al-Qur'an maupun hadits, tapi merupakan tafsiran
sebagian ulama.
Sebagian
ulama menceritakan bahwa seorang sahabat Nabi, Abu Musa Al-Asy'ari, menyatakan
bahwa Zulkifli bukanlah seorang nabi, tapi orang saleh yang shalat seratus
kali. Zulkifli menjamin untuk menjalankan perintah agama sepeninggal Ilyasa'
Yehezkiel
Sebagian
pendapat menyebutkan bahwa Zulkifli adalah sosok yang sama dengan Yehezkiel, nabi Bani Israil yang hidup pada masa pengasingan bangsa Yahudi ke
Babilonia. Dalam literatur Islam, Yehezkiel biasanya disebut dengan
ejaan Arabnya, Hazqiyal atau Hizqil.
Yehezkiel
diperkirakan hidup dua ratus tahun lebih setelah Ilyasa', lahir dan besar pada
masa-masa akhir Kerajaan Yehuda. Pada
tahun 597 SM, Yerusalem jatuh ke tangan Kekaisaran Babilonia Baru di
bawah kekuasaan Nebukadnezar II. Yehezkiel
termasuk mereka yang kemudian ditangkap dan dibawa ke Babilonia. Empat atau
lima tahun kemudian,[13] Yehezkiel diangkat sebagai nabi untuk
berdakwah pada Bani Israil di pengasingan.[14] Dia
meninggal di Babilonia dan dipercaya dimakamkan di tempat yang kemudian disebut
Al-Kifl di kawasan Iraq.
Abdullah Yusuf Ali mendukung pendapat kartografer Denmark Karsten Niebuhr yang menyebutkan bahwa
Kifli (الكفل)
adalah bentuk Arab dari Yehezkiel (Ibrani: יְחֶזְקֵאל Yəḥezqē’l),[15][16] sehingga menurut
pendapat ini, Zulkifli bukanlah julukan, melainkan nama. Namun terlepas
kebenaran pendapat ini, Yehezkiel biasanya juga dipandang sebagai nabi oleh
para ulama, seperti Ath-Thabari, Ibnu Katsir, Ibnu Ishaq, dan Ibnu Kutaibah.
Ibnu Katsir dalam karyanya, Qashashul Anbiya', menuliskan mengenai
Zulkifli dan Yehezkiel (Hazqiyal) dalam dua bab berbeda.
Siddhattha Gotama
Ada juga
pendapat yang menyebutkan bahwa Zulkifli adalah Siddhattha Gotama, tokoh pusat dalam agama Buddha.
Perkiraan masa kehidupannya berkisar pada rentang abad ke-6 sampai ke-5 SM.
Pendapat ini didasarkan bahwa Kifl dianggap sebagai pelafalan Arab dari Kapil,
kependekan dari Kapilavatthu,[17] ibu
kota Sakya dan tempat tinggal Siddhattha
Gotama sebelum meninggalkan istana
Nabi Dzulkifli merupakan putra Nabi Ayyub Alaihissalam. Putra
Nabi Ayyub AS mempunyai nama asli Basyar. Basyar atau Nabi Dzulkifli tinggal di
negeri Syam dimana sang Raja tidak memiliki keturunan dan sudah tua.
“Dzulkifli”
ada kisah bagaimana keberanian seorang nabi mengambil tanggung jawab besar
sebagai pemimpin. Jadi beliau Nabi Dzulkifli yang kala itu masih muda mau
mengambil peran tersebut.
Sebutan
“Dzul” sebenarnya sudah digunakan ketika waktu itu Nabi Yunus ditelan oleh
ikan. Ia dijuluki sebagai “Dzun-Nun” artinya yang bersama (ikan) Nun. Sedangkan
untuk “Dzulkifli” yang punya dua kata “Dzul” dan “kifli” berarti “orang dengan
ganjaran ganda”.
Berasal dari
kata kuno bahasa Arab “Kifli” sendiri diartikan sebagai “ganda”. Karena jiwa
kepemimpinan Basyar akhirnya dia mendapat julukan sebagai “Dzulkifli” atau sang
pemilik ganjaran ganda. Lantas bagaimana ceritanya beliau Nabi Dzulkifli sampai
mendapat gelar tersebut?
Padahal
banyak diantara usia yang jauh lebih tua dari Nabi Dzulkifli tidak mau dan tidak
berani mengambil keputusan itu. Jangankan mengangkat tangan dan siap
bertanggung jawab atas segala keputusan yang dia ambil, kebanyakan mereka
berniat saja tidak berani.
Kisah Nabi
Dzulkifli : Berani Menjadi Pemimpin,
Awal Mula
Kepemimpinan Nabi DzulkifliSuatu hari seorang raja di negeri Syam, tempat
dimana Nabi Dzulkifli lahir dan besar, mengumpulkan semua rakyat dengan tujuan
mencari dan menemukan seorang penerus kerajaan. Sang raja yang usianya tidak
muda lagi perlu mencar pengganti dirinya.
Di hadapan
para rakyat ia menyampaikan maksud tersebut secara terbuka. Rakyat mendengarkan
dengan seksama bahwa sang raja ingin pensiun karena sudah tua untuk memimpin
negeri Syam. Tapi apesnya sang raja tidak memiliki keturunan yang bisa
dijadikan pengganti dirinya.
Pidato raja
negeri Syam itu merupakan bentuk kegelisahan dirinya selama ini siapa yang akan
menggantikan posisi sebagai pemimpin kerajaan. Sebuah peluang menjadi bangsawan
dibuka lebar-lebar oleh Raja Syam waktu itu. Sang Raja Syam pun mempersilahkan
siapa saja yang mau menggantikan dirinya menjadi raja.
Namun
kebanyakan orang yang menghadiri pidato raja tetap saja langsung menunjukkan
kesiapan untuk menjadi raja. Kebanyakan rakyat hanya diam seribu bahasa karena
tidak mungkin sanggup memegang tanggung jawab sebesar itu yakni memimpin negeri
Syam.
Sampai saat
dimana sang raja mengajukan syarat yang sebenarnya tidak terlalu sulit. Syarat
tersebut hanya membutuhkan konsistensi dari kandidat calon raja. Sang raja
mengumumkan syarat kandidat calon raja kepada seluruh rakyat.“Siapa di antara
kamu sekalian yang sanggup berpuasa pada siang hari dan beribadah pada malam
harinya, juga tidak akan marah-marah, kepadanya akan saya serahkan kerajaan
ini? Karena saya sudah sangat tua,” ucap sang raja kepada rakyatnya.
Tak selang
beberapa lama hanya sepersekian detik saja sang raja mengumumkan syarat itu,
ada seorang pemuda berdiri dan mengangkat tangan kanannya. Pemuda yang berdiri
itu bernama Basyar, putra Nabi Ayyub. Ia mengatakan kepada raja dengan tegas
dan penuh percaya diri, “Hamba Sanggup!”
Namun
demikian sang raja tidak lantas mengiyakan kesanggupan Basyar untuk mendapuknya
jadi seorang raja di negeri Syam. Bukannya langsung memilih Basyar, sang raja
malah mengulang lagi pertanyaan yang sama kepada rakyat. Tentu saja seluruh
rakyat tidak merespon pertanyaan itu kecuali Basyar dan ia juga mengulang
jawaban yang sama.
Setelah sudah
tiga kali bertanya dan dijawab oleh Basyar, akhirnya sang raja merasa mantap
dan yakin bahwa sudah ada yang siap menggantikan posisi dirinya. Basyar
akhirnya didapuk menjadi seorang raja di negeri Syam waktu itu.Dari kejadian
itulah kemudian Basyar mendapat julukan sebagai “Dzulkifli”. Seorang raja dari
kalangan nabi memimpin tanah Syam dengan menegakkan keadilan seadil-adilnya.
Inilah yang
dimaksud “Dzulkifli” orang dengan ganjaran ganda. Menjadi seorang pemimpin
tidak hanya bertanggung jawab pada dirinya sendiri saja. Namun menjadi seorang
pemimpin bertanggung jawab atas apa dan siapa yang dipimpinnya.
Kesederhanaan
Menciptakan Pemimpin Bijaksana
Rumor tentang
bagaimana Nabi Dzulkifli menjadi seorang pemimpin yang bijaksana memang bukan
kaleng-kaleng. Berangkat dari keluarga sederhana, Nabi Dzulkifli yang telah
menjadi raja di negeri Syam tidak kemudian menjadi sombong dan congkak.Nabi
Dzulkifli memprioritaskan kepentingan rakyat yang sedang dalam kesusahan. Dalam
beberapa waktu kondisi rakyat di negeri Syam telah mencapai kemakmuran dan
kesejahteraan yang boleh dibilang sangat mencukupi.
Di zaman
sekarang ini susah menemukan seorang pemimpin memikirkan nasib rakyatnya
terlebih dahulu dari kepentingan pribadi. Lebih banyak para pemimpin sekarang
ini memperkaya diri sehingga yang miskin makin miskin dan yang kaya makin kaya.
Namun Nabi Dzulkifli tidak menjadi pemimpin seperti itu.
Sesuai dengan
janji Nabi Dzulkifli kepada raja sebelumnya agar berpuasa di siang hari,
beribadah di malam hari dan tidak marah ketika melayani rakyat di negeri Syam.
Nabi Dzulkifli menepati janjinya melakukan itu semua ketika ia memimpin sebagai
raja di negeri Syam.
Kebijaksanaan
beliau adalah salah satu dakwah yang dikedepankan selama ia memimpin. Terbukti
ketika suatu waktu kerajaan Syam akan diserang oleh kerajaan luar. Para
pemberontak itu ingin menghancurkan dan merebut kejayaan negeri Syam.Otomatis sang
raja Nabi Dzulkifli As mengajak seluruh rakyat agar ikut berpartisipasi melawan
serangan musuh. Namun tak dinyana rakyat yang telah difikirkan kesejahteraannya
itu justru mengajukan syarat kalau sang raja ingin rakyat ikut berperang.
Syarat mereka adalah tidak ada korban jiwa dari rakyat ketika melawan kaum
pemberontak.
Akhirnya Nabi
Dzulkifli sebagai pemimpin berjanji bahwa tidak akan ada korban jiwa yang
meninggalkan istri dan anak di rumah. Nabi Dzulkifli berdoa agar Allah SWT
selamatkan seluruh rakyat negeri Syam. Pertarungan terhadap pemberontak pun
terjadi dan tidak ada korban dari pihak kerajaan Syam.Pada awalnya rakyat
enggan berperang karena takut mati. Itulah alasan utama mereka lebih memilih
menolak ajakan Nabi Dzulkifli AS ketika akan memerangi kaum pemberontak.
Mengamati
kejadian ini sebenarnya nabi Dzulkifli bisa saja memaksa rakyat agar ikut
berperang melawan musuh. Terlebih jasa sang Raja dalam meningkatkan
kesejahteraan rakyat sudah terbukti. Namun sang Raja nabi Dzulkifli memilih
tidak melakukan hal tersebut bahkan mampu menepati janjinya bahwa tidak ada
korban dari peperangan itu.
Nabi
Dzulkifli Kesabaran Seorang Pemimpin yang Diuji oleh Kakek Jelmaan iblis
Sepertinya
pepatah yang berbunyi, “buah tidak jatuh jauh dari pohonnya” itu ada benarnya
juga. Nabi Dzulkifli AS yang merupakan keturunan Nabi Ayyub ini mewarisi sikap
ayahnya dalam hal kesabaran. Kita tahu betapa sabarnya Nabi Ayyub AS atas
cobaan hidup berupa sakit kulit bertahun-tahun.
Begitupun
yang dilakukan oleh Nabi Dzulkifli ketika ia menghadapi kakek jelmaan iblis
yang datang ke tempat kerajaan Syam. Ketika itu ada seorang kakek tua yang
miskin mendatangi para penjaga kerajaan Syam pada waktu tengah hari.Walau
kondisi para penjaga kerajaan Syam yang lelah dan sedang beristirahat si kakek
tetap memaksa ingin bertemu sang raja. Padahal waktu itu sang raja sedang lelah
karena di malam harinya beliau beribadah dan siang hari berpuasa menepati janji
terhadap raja sebelumnya, Nabi Ilyasa.
Akhirnya sang
raja Nabi Dzulkifli menemui sang kakek yang mengungkapkan bahwa dirinya telah
diperlakukan tidak adil oleh rakyatnya. Kakek Jadi-jadian itu mengganggu waktu
tidur siang sang raja karena Kakek berbicara panjang lebar tentang masalahnya.
Tidak tanggung-tanggung Kakek Jadi-jadian itu mengobrol dengan Nabi Dzulkifli
hingga sore.Sang raja mengetahui masalah sengketa antar kaumnya, ia mengadakan
majelis untuk memutuskan perkara. Kakek jelmaan iblis itu diminta datang pada
majelis di sore hari. Tapi bukannya menghargai keputusan sang raja, Kakek
Jadi-jadian itu malah tidak hadir di majelis.
Di siang esok
harinya si kakek malah datang menemui sang raja. Sang raja Nabi Dzulkifli heran
kenapa si kakek tidak datang. Si kakek menceritakan kalau pihak yang
bersengketa dengannya sudah berjanji akan memberikan hak kepada si kakek.
Alasan itulah kenapa kakek tidak jadi datang ke majelis.Padahal jika mau
menghargai kakek seharusnya memberi kabar tidak datang karena suatu hal. Namun
karena kakek jelmaan setan memang ingin memancing Nabi Dzulkifli AS agar marah
sehingga sang raja pengganti itu tidak menepati janjinya.
Lebih kentara
lagi ketika si kakek tidak memikirkan kondisi sang raja yang harus tidur, ia
mengobrol lagi sampai sore. Alhasil Nabi Dzulkifli tidak punya kesempatan untuk
tidur siang karena diajak mengobrol oleh si Kakek. Kejadian ini sang raja Nabi
Dzulkifli tidak marah dengan sikap si kakek yang tidak tahu diri.Karena
persengketaan antara kakek dengan kaum negeri Syam belum selesai, sang raja
meminta kakek datang esok sore. Lagi-lagi si kakek tidak menghadiri majelis
entah karena apa. Sang raja dan penjaga yang lainnya tidak tahu kenapa.
Esok harinya
lagi di siang bolong si kakek datang ingin menjumpai lagi sang raja. Sang
penjaga kerajaan melarang siapapun masuk istana sesuai perintah sang raja. Hal
itu disebabkan kondisi sang raja Nabi Dzulkifli kelelahan dan ingin tidur siang
sejenak.Akhirnya si kakek tua gagal masuk ke istana karena dilarang sewaktu
bertemu dengan penjaga kerajaan. Si kakek dihadang para penjaga kerajaan yang
sebelumnya diperintahkan agar tidak membiarkan siapapun masuk ke istana karena
sang raja ingin tidur siang.
Dasar Kakek
itu bukan manusia biasa, ia mampu menembus batas pengamanan para penjaga. Kakek
jelmaan setan itu mencari jalan lain untuk bisa bertemu sang raja dan bertujuan
mengganggu jadwal tidur siang.Melihat pintu rumah sang raja dikunci, akhirnya
kakek merubah diri dan masuk melalui lubang pintu. Sang raja yang bertemu
dengan si kakek berkata, “Wahai fulan, bukankah aku telah bilang kepadamu,
jangan menggangguku ketika aku sedang tidur?”Selang beberapa detik kemudian
sang raja menyadari bahwa kunci rumahnya dikunci tapi kenapa si kakek ini bisa
masuk rumahnya? Baru kali itu sang raja Nabi Dzulkifli menyadari bahwa si Kakek
itu adalah jelmaan iblis.
Usaha setan
agar Nabi Dzulkifli marah pun akhirnya gagal total karena tingkat kesabaran
yang teruji. Nabi Dzulkifli sebagai seorang pengganti yang sudah janji tidak
akan marah, ia sanggup menepati janjinya.
Kisah sang
raja Nabi Dzulkifli diabadikan dalam petikan surat Alqur’an ini. “Dan (ingatlah
kisah) Ismail, Idris dan Zulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang
sabar. Kami telah memasukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka
termasuk orang-orang yang saleh”. (Q.S. Al-Anbiya ayat 85-86).
Mukjizat Nabi
Zulkifli
Mukjizat-mukjizat
yang telah dilakukannya pun semakin meningkatkan kepercayaan umat Islam
terhadapnya. Walaupun nama Nabi Zulkifli hingga saat ini masih belum begitu
dikenal oleh umat Islam modern, ia tetap berkontribusi besar dalam
mempromosikan ajaran Islam.
Ajaran-ajaran
yang telah dipopulerkannya seperti kesederhanaan, kesederhanaan, kasih sayang,
kerohanian, dan juga keadilan sosial sangat berarti bagi umat Islam. Pendidikan
yang diberikannya dalam bidang teologi pun menginspirasi banyak orang untuk
memperdalam ilmu mereka tentang agama.
1. Memiliki
sifat sabar yang tiada tara
Nabi Zulkifli
dikenal sebagai salah satu nabi yang memiliki kesabaran luar biasa.
Kesabarannya ini juga ditulis dalam Surat Al-Anbiya ayat 85-86 yang memiliki
arti:
“Dan
(ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang
yang sabar.Kami telah memasukkan mereka kedalam rahmat Kami. Sesungguhnya
mereka termasuk orang-orang yang saleh.” (Q.S An-Nabiya 85-86)
Suatu hari,
iblis mencoba untuk menguji kesabaran Nabi Zulkifli dengan mulanya menyamar
menjadi seorang kakek tua yang renta. Iblis pun datang ke rumah Nabi Zulkifli
pada siang hari. Padahal, siang hari adalah waktu di mana Nabi Zulkifli
beristirahat karena malamnya ia tidak bisa istirahat melainkan melakukan ibadah
kepada Allah SWT.
Mengetahui
kedatangan kakek tua itu, Nabi Zulkifli terbangun dari tidurnya dan menanyakan
maksud kedatangan si kakek. Iblis yang menyamar menjadi kakek tua tersebut
mengaku bahwa ia merupakan orang yang teraniaya. Iblis mengarang cerita
bagaimana ia merupakan korban penganiayaan sampai waktu istirahat Nabi Zulkifli
habis dan harus kembali bekerja.
Nabi Zulkifli
pun meminta si kakek untuk kembali lagi pada waktu sore. Namun, si kakek tidak
muncul dan baru kembali mendatanginya keesokan harinya pada waktu siang dan
mengambil waktu istirahat Nabi Zulkifli lagi. Setelah melakukannya berulang
kali, iblis pun mengakui siapa dirinya yang sebenarnya dan tujuannya yang ingin
menggoda kesabaran Nabi Zulkifli namun gagal karena Nabi Zulkifli tak pernah
sekalipun marah kepada si kakek meskipun telah mengganggu waktu istirahatnya.
2. Mukjizat
Nabi Zulkifli: Doanya selalu dikabulkan oleh Allah
Selain
dikenal sebagai sosok yang sabar, Zulkifli AS juga memiliki mukjizat berupa doa
yang mustajab. Hal itu terjadi berkat kesabaran, kejujuran, dan sikapnya yang
selalu menepati janji.
Karena
kesabaran, kejujuran, dan sikapnya yang selalu menetapi janji, maka Allah
memberikan mukjizat kepada Nabi Zulkifli berupa setiap doanya yang selalu
dikabulkan oleh Allah SWT. Kesabaran Nabi Zulkifli ini juga disebut dalam
firman Allah SWT. Surat Sad Ayat 48 yang memiliki arti “Dan ingatlah akan
Ismail, Ilyasa, dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik.“
Salah satu
doa Nabi Zulkifli yang terkabul ialah pada saat melakukan perang bersama para
pengikutnya. Pada saat itu, jumlah pasukan Nabi Zulkifli bisa terbilang sedikit
dibandingkan dengan jumlah pemberontak yang sangat banyak. Namun, atas izin
Allah SWT. Nabi Zulkifli dan para pengikutnya memenangkan perang tersebut tanpa
ada satu orang pun yang tewas.
3. Diangkat
menjadi raja
Mukjizat lain
yang dimiliki oleh Nabi Zulkifli semasa hidupnya ialah ketika diangkat menjadi
raja. Kisah ini diawali saat Nabi Zulkifli menyanggupi persyaratan menjadi raja
selanjutnya setelah Nabi Ilyasa yang pada saat itu telah memasuki usia tua.
Nabi Ilyasa
pun membuat pengumuman dan mengumpulkan para pengikutnya. Dalam pengumuman
tersebut, Nabi Ilyasa berkata barang siapa yang sanggup memenuhi ketiga syarat
darinya, maka akan diangkat menjadi raja selanjutnya untuk menggantikannya.
Ketiga syarat tersebut meliputi berpuasa pada siang hari, bangun pada malam
hari, dan tidak mudah marah.
Mendengar hal
tersebut, Nabi Zulkifli berdiri dan mengatakan bahwa ia sanggup. Namun, Nabi
Ilyasa belum langsung mengambil keputusan. Keesokannya, Nabi Ilyasa melakukan
pengumuman yang sama dan Nabi Zulkifli kembali berdiri dan menyatakan
kesanggupan atas syarat-syarat tersebut.
Pada
akhirnya, Nabi Ilyasa pun mengangkat Nabi Zulkifli sebagai raja selanjutnya.
Hal ini merupakan salah satu mukjizat Nabi Zulkifli dari Allah SWT.
Peninggalan
Nabi Dzulkifli
Nabi
Dzulkifli wafat pada usia 75 tahun. Meski begitu ada yang berpendapat bahwa
Nabi Dzulkifli wafat pada usia 95 tahun. Selama Nabi Dzulkifli hidup ia telah
menjaga dirinya untuk selalu menepati janjinya termasuk ketika menjadi seorang
pemimpin pengganti Raja Ilyasa.Ada beberapa hal yang ditinggalkan oleh Nabi
Dzulkifli kepada rakyatnya. Pertama, kesederhanaan harus menjadi gaya hidup
seorang pemimpin. Kedua, keadilan seluruh rakyat harus dijunjung tinggi.
Ketiga, tetap bersabar atas segala hal yang terjadi.
Selama Nabi
Dzulkifli menjabat sebagai raja di negeri Syam menggantikan Nabi Ilyas’ AS, ia
berperilaku secara sederhana. Kesederhanaan Nabi Dzulkifli diabadikan ketika ia
harus menemui seorang kakek tua yang belakangan diketahui ternyata adalah
sesosok iblis yang ingin menjerumuskan ke lembah dosa. Nabi Dzulkifli tidak
akan menerima pertemuan dengan si kakek tua kalau dia tidak memiliki sikap
kesederhanaan.
Dalam hal
memimpin di negeri Syam, ia telah mengantarkan rakyat pada tingkat
kesejahteraan yang tinggi. Seperti itulah seharusnya pemimpin menegakkan
keadilan di negeri yang dipimpinnya. Ia tidak egois dengan memperkaya diri
sendiri dan golongan saja tapi semua rakyat.Ternyata itulah tujuannya Nabi
Ilyasa AS memberi syarat salah satunya pengganti beliau harus puasa di siang
harinya. Tujuannya agar selalu memikirkan kondisi rakyatnya dan menjadi
pemimpin yang adil. Hal yang sekarang ini sangat sukar ditemukan tipe pemimpin
macam itu.
Karena puasa
secara tidak langsung melatih kesabaran seseorang karena menahan diri untuk
tidak makan dan minum untuk jangka waktu berjam-jam. Kebiasaan inilah yang
akhirnya tingkat kesabaran sang Nabi pemimpin negeri Syam itu bisa menjaga
emosinya.Kesabaran Nabi Dzulkifli benar-benar diuji ketika iblis menjelma
sebagai kakek tua renta. Jika saja Nabi Dzulkifli tidak menepati janjinya untuk
berpuasa di siang hari, beribadah setiap hari dan tidak marah mungkin ia akan
gagal karena diprovokasi oleh iblis agar marah.
Itulah
peninggalan secara psikis dari seorang nabiyullah Dzulkifli bin Ayyub
alaihissalam. Peninggalan sejarah yang berupa benda hanya ditemukan sebuah
segel yang usianya 2700 tahun. Di segel yang terbuat dari tanah liat yang
mengeras itu terdapat nama Nabi Dzulkifli. Penemuan itu diduga peninggalan Raja
Nabi Dzulkifli AS yang dipublikasikan oleh Biblical Archaeology.